← Kembali ke Informasi Terkini
Keputihan Biang Keresahan
dr. Puska Primi Ardini, Sp.OG (K), MFM - Flour albus, dalam bahasa awam disebut dengan keputihan adalah suatu gejala (bukan diagnosis), yaitu semua sekret yang berasal dari vagina, tidak termasuk darah.
Keputihan selanjutnya dibedakan apakah merupakan suatu kondisi normal (fisiologis) atau patologis. Keputihan yang normal ditemukan pada keadaan sebagai berikut : saat sang wanita mendapat rangsangan seksual, mendekati saat menstruasi dan beberapa hari setelah menstruasi, saat ovulasi dan saat kehamilan. Di luar keadaan tersebut, keputihan digolongkan kondisi patologis, dan merupakan salah satu gejala vaginitis.
Vagina dilindungi oleh flora normal (laktobasilus) yang berperan sebagai mekanisme pertahanan melawan infeksi. Laktobasilus mempertahankan pH normal vagina antara 3,8-4,2. Bila mekanisme pertahanan ini terganggu , akan bertambah banyaklah mikroorganisme anaerob yang akan diikuti oleh produksi enzim-enzim proteolitik. Enzim-enzim ini bekerja pada peptida vagina, melepaskan berbagai produk biologik, termasuk poliamin. Pada keadaan alkali (basa), poliamin menjadi tidak stabil dan mengeluarkan bau yang tidak sedap. Poliamin juga memfasilitasi transudasi cairan vagina dan eksfoliasi sel-sel epitel, membentuk sekret yang kental dan banyak.
Pada kehamilan, peningkatan jumlah sekret vagina cukup sering dikeluhkan. Tidak ditemukan adanya penyebab patologis pada sebagian besar kasus. Faktor yang mendasari peningkatan sekret vagina dan serviks adalah hiperestrogenemia. Sekret vagina yang di keluarkan khas, merupakam sekret mukoid kental keputihan, dengan jumlah sedang, dan bersifat asam (pH antara 3,5-6). Sifat asam ini dihasilkan oleh peningkatan produksi asam laktat dari glikogen di epitel vagina, berkat kerja laktobasilus asidofilus. pH asam inilah yang mengontrol kecepatan multiplikasi bakteri patogen di vagina dan mampu memberikan proteksi kepada wanita hamil terhadap infeksi naik (ascending infection) membran korioamniotik dan kavum uteri (mencegah persalinan prematur). Namun tidak jarang peningkatan sekret vagina pada wanita hamil didasari adanya infeksi.
Vaginitis
Tiga penyebab vaginitis yang paling sering ditemukan adalah Vaginosis bakterialis / BV (44-45 %), Kandidiasis (25-27%), dan Trikomoniasis (13-25%). Namun vaginitis juga dapat disebabkan oleh penyebab non infeksi antara lain bahan kimia / iritan, alergi, trauma, maupun vagina yang mengalami atrofi.
Beberapa faktor dikaitkan dengan timbulnya keputihan adalah memiliki pasangan seksual lebih dari satu, status sosioekonomi, penyakit menular seksual, kontrasepsi IUD, usia < 25 tahun, vaginal douching, merokok, etnik tertentu, HIV, diabetes melitus (DM) dan obesitas.
Diagnosis ditegakkan dengan melakukan pemeriksaan non mikroskopik (anamnesis, pemeriksaan ginekologik umum, pemeriksaan KOH serta pH) dan mikroskopik (pemeriksaan sekret vagina serta tes sensitivitas kultur). Keluhan utama dan gejala yang dinilai adalah banyaknya sekret, adanya gatal dan bau.
Kriteria Diagnostik Vaginitis
Terapi didasarkan pada keluhan utama dan gejala, ditujukan pada penyebab vaginitis, terapi pasangan seksual, pencegahan rekuensi, dan terapi infeksi berulang. Manfaat antihistamin, asam laktat, kortikosteroid (hidrokortison) dan estrogen (pada menopause) untuk mengurangi keluhan dan gejala belum terbukti dan butuh penelitian lebih lanjut.
Terapi Pasangan Seksual
Terapi pasangan seksual hanya dilakukan untuk vaginitis yang disebabkan oleh kandida dan trikomonas. Terapi yang direkomendasikan adalah metronidasol oral. Terapi non medikamentosa untuk pencegahan rekurensi vaginitis.
Selain terapi medikamentosa, beberapa tindakan berikut perlu diperhatikan dalam rangka mencegah berulangnya vaginitis, yaitu hygiene vagina; menghindari pakaian ketat, obat semprot / spray atau antiseptik vagina; tindakan sterilisasi aplikator terapi (untuk terapi diafragma atau tablet vagina); penggunaan kondom selama terapi; mengurangi penggunaan antibiotika yang tidak tepat; serta kontrol gula darah dan berat badan. Penggunaan pre dan probiotik dikaitkan dengan pencegahan vaginitis berulang, namun masih perlu penelitian lebih lanjut. Leukorea bukan suatu penyakit. Tapi merupakan gejala penyakit tertentu; baik kanker maupun infeksi. Jadi tujuan terapi leukorea, apada dasarnya terdiri dari tiga tahap, yaitu menghilangkan gejala, memberantas penyebabnya dan mencegah timbulnya kembali leukorea.
Beberapa saran dapat diberikan untuk menghindari leukorea di antaranya adalah :
- Gunakan pakaian dalam yang bersih dan kering, mudah menyerap keringat.
- Bersihkan dan keringkan vagina hanya dengan cara benar sehabis buang air.
- Ganti pakaian dalam 2-3 kali shari, khususnya setelah olah raga.
- Saat menjemur pakaian dalam, jangan hanya diangin-anginkan, melainkan jemur di bawah terik matahari.
- Hindari menggunakan cairan pembersih vagina. Apabila tidak sedang menderita leukorea, bersihkan vagina dan sekitarnya dengan air bersih saja, tidak usah yang mengandung sabun, apabila antiseptik yang cenderung membunuh “flora normal” di vagina. Sebab flora normal di vagina yang membuat vagina selalu asam akan menjadi mati. Vagina harusnya asam dengan pH antara 3,5 hingga 4,5. Sehingga suasana asam pun terganggu menjadi basa dan akhirnya muncul berbagai penyakit, entah itu kandida / jamur, infeksi dari luar vagina demi mencegah timbulnya leukorea.
- Hindari duduk di toilet umum jika tidak terpaksa sekali. Sediakan tisu alasi dulu tempat toiletnya, baru duduk. Atau lebih baik bawa cairan penyemprot praktis yang mengandung desinfektan.
- Hindari menggunakan douches (penyemprotan vagina) yang dijual umum, tampon mengandung pewangi atau produk lain yang mengandung parfum. Sejatinya douches tidak dibutuhkan untuk menjaga kebersihan vagina.
- Setelah berhubungan seks, bersihkan bagian luar vagina.
- Pastikan pasangan tidak punya sekret (cairan) mencurigakan atau luka di organ genitalnya. Jika pasangan dicurigai mengidap penyakit menular seksual, lakukan terapi.
- Gunakan kondom untuk berhubungsn seks guna mencegah penularan penyakit menular seksual.
- Hindari seks berganti-ganti pasangan dan lakukan pemeriksaan ginekologi termasuk pemeriksaan deteksi dini kanker leher rahim (Pap Smear) setidaknya setahun sekali bagi yang pernah melakukan hubungan seksual.