← Kembali ke Informasi Terkini
Pelayanan Endoscopy Saluran Cerna
dr. Achmad Thabrani, Sp.PD - Pemeriksaan Endoskopi saluran cerna tidak hanya digunakan untuk mendiagnosis namun juga dapat digunakan sebagai salah satu terapi. Penilaian diagnosis standar yang dilakukan meliputi inspeksi, biopsi, fotografi, dan perekaman video.
Pada endoskopi juga dapat dilakukan penilaian terhadap lesi jinak maupun ganas, perubahan mukosa yang bersifat diffus, penyempitan rongga saluran cerna, dan gangguan motilitas. Tindakan terapetik yang dapat dilakukan berupa polipektomi, dilatasi striktur, pemasangan stent, gastrostomi, evakuasi benda asing, pengobatan terhadap kasus-kasus perdarahan saluran cerna dengan tehnik binding / ligasi injeksi, koagulasi, dan skleroterapi.
Endoskopi Saluran Cerna Atas (Esofago Gastro Duodenoscopy / EGD)
EGD dapat menampilkan gambaran permukaan esophagus, gaster, dan duodenum bagian proximal.
Indikasi EGD untuk mengevaluasi :
- Gejala saluran cerna atas yang masih berlanjut setelah terapi inisial.
- Gejala saluran cerna atas yang berhubungan dengan gejala atau tanda yang dicurigai penyakit structural seperti anorexia atau penurunan berat badan atau gejala keluhan saluran cerna yang muncul pertama kali pada usia lebih 50 tahun.
- Dysphagi atau odinofagia
- Gejala reflux esophageal yang berlanjut atau berulang setelah terapi yang sesuai.
- Muntah persisten yang tidak diketahui penyebabnya.
- Sindroma poliposis adenomatosa familial.
- Perdarahan saluran cerna : pasien dengan perdarahan aktif atau pasien dengan yang dicurigai perdarahan kronik dan anemia defisiensi besi atau saat colonoscopy tidak ditemukam lesi perdarahan.
- Pasien sisrosis hati yang dicurigai hipertensi portal / varises esofagus untuk diagnostik dan pencegahan perdarahan.
- Menilai kerusakan akut akibat tertelan bahan kimia korosif.
- Mengeluarkan benda asing.
- Pelebaran rongga / dilatasi dengan stent pada kasus stenosis.
- Tatalaksna akalasia seperti injeksi toksin botulinum atau dilatasi balon.
- Pemasangan tube untuk makan atau drainase seperti Percutaneus Emdoscopic Gastrostomy (PEG) atau Pecutaneus Endoscopic Jejunostomy (PEJ).
- Screening neoplasia colorectal.
- Evaluasi perdarahan saluran cerna bagian bawah (hematoschezia).
- Evaluasi perubahan pola defekasi seperti konstipasi kronik atau diare kronik.
- Evaluasi pre-operative atau post-operative kanker usus besar.
- Skrining surveilans pasien risiko tinggi neoplasia seperti colitis ulseratif atau penyakit Chrohn, riwayat keluarga polip atau kanker usus besar pada pasien berusia lebih 50 tahun.
- Pasien ikterus yang dicurigai mengalami obstruksi bilier.
- Pasien tanpa ikterus namun klinis, biokimia, dan pencitraan dicurigai suatu penyakit duktus pancreas atau duktus bilier.
- Evaluasi pancreatitis yang tidak diketahui
- Sfingterotomi endoskopik pada kasus koledolelitiasis, stenosis papiller atau disfungsi spingter Oddi, dilatasi pemasangan stent biiliaris atau dilatasi striktur bilier.
- Pemasangan stent dan dilatasi striktur duktus bilier.
- Pemasangan drain nasobilier.