← Kembali ke Informasi Terkini
Infertilitas
dr. Mochamad Munir, Sp.OG (K) - Infertilitas adalah gangguan sistem reproduksi yang menyebabkan kegagalan untuk mencapai kehamilan klinis setelah 12 bulan atau lebih berhubungan intim secara teratur tanpa menggunakan kontrasepsi. (WHO)
Infertilitas primer adalah infertilitas dalam pasangan yang tidak pernah memiliki anak. Infertilitas sekunder adalah kegagalan untuk hamil setelah kehamilan sebelumnya. Infertilitas dapat disebabkan oleh infeksi pada pria atau wanita, tetapi sering tidak ada penyebab mendasar yang jelas.
Pasangan infertil adalah suatu kesatuan hasil interaksi biologik yang tidak menghasilkan kehamilan dan kelahiran bayi hidup.
Infertilitas terutama lebih banyak terjadi di kota-kota besar karena gaya hidup yang penuh stres, emosional dan kerja keras serta pola makan yang tidak seimbang. Infertilitas dapat terjadi dari sisi pria, wanita, kedua-duanya, maupun pasangan. Disebut infertilitas pasangan bila terjadi penolakan sperma suami oleh istri sehingga sperma tidak dapat bertemu dengan sel telur. Hal ini biasanya disebabkan oleh ketidaksesuaian antigen / antibodi pasangan tersebut.
Ada 2 jenis infertilitas :
Infertilitas primer : bila pasangan tersebut belum pernah mengalami kehamilan sama sekali.
Infertilitas sekunder : bila pasangan tersebut sudah pernah melahirkan namun setelah itu tidak pernah hamil lagi.
Epidemiologi
Data Organisasi Kesehatan Dunia / WHO tahun 2010 menyebutkan bahwa pasangan suami istri yang mengalami infertilitas sebanyak 25% dan menunjukkan bahwa 64% penyebab berada pada istri dan sebesar 36% diakibatkan adanya kelainan pada suami (Addy, 2012).
Infertilitas merupakan permasalahan global di bidang reproduksi kesehatan yang sangat kompleks. Perlu penataan rasional dan terpadu. Prevalensi di dunia yang mengalami masalah infertilitas setiap tahun adalah 1 dari 7 pasangan. Pasangan infertil di Indonesia tahun 2009 adalah 50 juta pasangan atau 15-20% (en.wikipedia.org, inasoengkowo, 2009).
Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2011 menyebutkan dari total 237 juta penduduk Indonesia, terdapat kurang lebih 39,8 juta wanita usia subur, namun 10-15% di antaranya infertil.
Etiologi
Infertilitas tidak semata-mata terjadi kelainan pada wanita saja. Hasil penelitian membuktikan bahwa suami menyumbang 25-40% dari angka kejadian infertil, istri 40-55%, keduanya 10%, dan idiopatik 10%. Hal ini dapat menghapus anggapan bahwa infertilitas terjadi murni karena kesalahan dari pihak wanita / istri.
Berbagai gangguan yang memicu terjadinya infertilitas antara lain:
Pada Perempuan
Hormonal
- Gangguan glandula pituitaria, thyroidea, adrenalis atau ovarium yang menyebabkan :
- Kegagalan ovulasi.
- Kegagalan endometrium uterus untuk berproliferasi dan sekresi.
- Sekresi vagina dan cervix yang tidak menguntungkan bagi sperma.
- Kegagalan gerakan (motilitas) tuba falopii yang menghalangi spermatozoa mencapai uterus.
- Kelainan kongenital.
- Penyakit radang pelvis umum, misalnya apendixitis dan peritonitis.
- Infeksi tractus genitalis yang baik, misalnya gonore.
- Fibroid uterus, yang menghambat implantasi ovm.
- Erosi cervix yang mempengaruhi pH sekresi sehingga merusak sperma.
- Kelainan kongenital vagina, cervix atau uterus yang menghalangi pertemuan sperma.
- Jumlah spermatozoa kurang dari 20 juta per mililiter cairan seminal.
- Jumlah spermatozoa yang abnormal lebih dari 40% yang berupa defek kepala (caput) atau ekor (cauda) yang spesifik. Keadaan ini mungkin karena adanya aplasia sel germinal, pengelupasan, atau suatu defek kongenital, atau beberapa penyebab yang tidak dapat ditetapkan.
- Cairan seminal yang diejakulasikan kurang dari 2 ml.
- Kandungan kimia cairan seminal tidak memuaskan, misalnya kadar glukosa, kolesterol, atau enzim hialuronidase abnormal dan pH-nya terlalu tinggi atau terlalu rendah.
- Sumbatan (oklusi) kongenital duktus atau tubulus.
- Sumbatan duktus atau tubulus yang disebabkan oleh penyakit peradangan (inflamasi) akut atau kronis yang mengenai membran basalis atau dinding otot tubulus seminiferus, misalnya orkitis, infeksi prostat, infeksi gognokokus. Penyakit ini merupakan penyebab yang paling umum pada infertilitas pria.
- Faktor-faktor fisik misalnya hipospadia, epispidia, deviasi penis seperti pada priapismus atau penyakit peyronie.
- Faktor-faktor psikologis yang menyebabkan ketidakmampuan untuk mencapai atau mempertahankan ereksi.
- Alkoholisme kronik.
- Wanita
- Pria
- Terjadi kelainan sistem endokrin.
- Hipomenore dan amenore.
- Diikuti dengan perkembangan seks sekunder yang tidak adekuat menunjukkan masalah pada aksis ovarium hipotalamus hipofisis atau aberasi genetik.
- Wanita dengan sindrom turner biasanya pendek, memiliki payudara yang tidak berkembang, dan gonatnya abnormal.
- Wanita infertil dapat memiliki uterus.
- Motilitas tuba dan ujung fimbrienya dapat menurun atau hilang akibat infeksi, adhesi, atau tumor.
- Traktus reproduksi internal yang abnormal.
- Riwayat terpajan benda-benda mutan yang membahayakan reproduksi (panas, radiasi, rokok, narkotik, alkohol, infeksi);
- Status gizi dan nutrisi terutama kekurangan protein dan vitamin tertentu;
- Riwayat infeksi genitorurinaria;
- Hipertiroidisme dan hipotiroid;
- Tumor hipofisis atau prolactinoma;
- Disfungsi ereksi berat;
- Ejakulasi retrograt;
- Hypo / epispadia;
- Mikropenis;
- Andesensus testis (testis masih dalam perut / dalam liat paha;
- Gangguan spermatogenesis (kelainan jumlah, bentuk dan motilitas sperma);
- Hernia scrotalis (hernia berat sampai ke kantong testis);
- Varikokel (varises pembuluh balik darah testis); dan
- Abnormalitas cairan semen.
- Anamnesis
- Pemeriksaan Fisik
- Pemeriksaan Laboratorium
- Pemeriksaan Terhadap Ovulasi
- Pemeriksaan Terhadap Saluran Telur
- Pemeriksaan Khusus
- Pengetahuan tentang siklus menstruasi, gejala lendir serviks puncak dan waktu yang tepat untuk coital;
- Pemberian terapi obat, seperti :
- Stimulant ovulasi, baik untuk gangguan yang disebabkan oleh supresi hipotalamus, peningkatan kadar prolaktin, pemberian tsh.
- Terapi penggantian hormon.
- Glukokortikoid jika terdapat hiperplasi adrenal.
- Penggunaan antibiotika yang sesuai untuk pencegahan dan penatalaksanaan infeksi dini yang adekuat.
- GIFT (Gemete Intrafallopian Transfer);
- Laparatomi dan bedah mikro untuk memperbaiki tuba yang rusak secara luas;
- Bedah plastik misalnya penyatuan uterus bikonuate;
- Pengangkatan tumor atau fibroid; dan
- Eliminasi vaginitis atau servisitis dengan antibiotika atau kemoterapi.
- Penekanan produksi sperma untuk mengurangi jumlah antibodi autoimun, diharapkan kualitas sperma meningkat;
- Agen antimikroba;
- Testosterone enantat dan testosteron spionat untuk stimulasi kejantanan;
- HCG secara i.m memperbaiki hipoganadisme;
- FSH dan HCG untuk meningkatkan spermatogenesis (produksi sperma);
- Bromokriptin, digunakan untuk mengobati tumor hipofisis atau hipotalamus;
- Klomifen dapat diberikan untuk mengatasi subfertilitas idiopatik;
- Perbaikan varikokel menghasilkan perbaikan kualitas sperma;
- Perubahan gaya hidup yang sederhana dan yang terkoreksi. Seperti, perbaikan nutrisi, tidak membiasakan penggunaan celana yang panas dan ketat; dan
- Perhatikan penggunaan lubrikans saat coital, jangan yang mengandung spermatisida.