← Kembali ke Informasi Terkini
Sehat Bugar Selama Puasa Ramadhan Dengan Makanan Seimbang
Tri Wiji Utami, S.Gz - “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagai mana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. (QS. Al Baqarah: 183)
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan pahala (dari Allah Subhanahu wa Ta’ala), niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (Shahih Bukhari)
Bulan Ramadhan bagi umat muslim seluruh dunia merupakan bulan penuh berkah, hikmah dan ampunan, karena berbagai amal perbuatan dapat menjadi pahala yang berkali lipat. Bahkan diceritakan bagaimana tidurnya orang yang berpuasa di bulan Ramadhan adalah pahala. Ibadah puasa boleh dibilang sangat multidimensional karena ibadah ini tidak hanya membangun hubungan vertikal antara seorang hamba dengan Sang Pencipta, dengan berpuasa kita juga belajar merasa dan peka terhadap penderitaan orang-orang yang kekurangan. Itu sebabnya puasa disebut sebagai ibadah yang melatih manusia untuk saleh secara ritual serta sosial.
Puasa Ramadhan mengharuskan kita untuk menahan makan-minum selama ± 14 jam sehari selama 29/30 hari. Puasa juga memaksa kita melakukan perubahan pola makan dan minum, bahkan pada orang yang harus mengkonsumsi obat juga harus mengubah jadwal minum obat. (Tentu saja setelah berkonsultasi dengan dokter).
Beberapa penelitian medis menunjukkan bahwa ternyata puasa memberikan manfaat fisiologis, antara lain meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Mengapa bisa demikian? Salah satu hipotesis yang dikemukakan adalah bahwa selama periode puasa, sel tubuh berada di bawah tekanan ringan. Sel merespon secara adaptif dengan meningkatkan kemampuannya mengatasi stres dan melawan penyakit.
Apa yang terjadi bila kita berpuasa? Selama berpuasa, sumber energi diperoleh dari cadangan gula yang tersimpan di hati. Cadangan energi berupa glikogen ini cukup untuk puasa selama 12-16 jam. Sesaat sesudah makan sahur, tubuh akan menyerap zat-zat gizi dari makanan yang kita konsumsi. Fase ini disebut fase absorpsi atau penyerapan. Glukosa melimpah dalam darah dan digunakan sebagai sumber energi utama. Namun tentu saja, glukosa darah ini dari waktu ke waktu akan terus berkurang seiring dengan penggunaannya dalam proses metabolisme. Pada saat glukosa darah menurun sementara tidak ada asupan yang masuk, tubuh akan menggunakan simpanan energi berupa glikogen sebagai sumber tenaganya. Glikogen ialah glukosa yang tersimpan di hati dan jaringan otot. Kemudian ketika simpanan glikogen juga mulai menipis, maka tubuh akan beralih menggunakan simpanan lemak. Lemak merupakan cadangan energi utama selama berpuasa. Artinya, puasa memicu fat loss karena puasa bisa meningkatkan pembakaran lemak tubuh dan menurunkan kelebihan berat badan, selama kita tidak makan berlebihan pas buka puasa dan sahur.
Cara Mengatur Pola Makan di Bulan Puasa Ramadhan
Kebanyakan orang saat berpuasa akan makan dengan lahap ketika berbuka, seolah apapun yang tersaji di meja akan dimasukkan ke dalam perut semuanya. Alasannya adalah untuk menggantikan energi yang telah terpakai di siang hari. Sedangkan pada saat sahur, ada yang makan hanya sekedarnya, asal kenyang. Jika kita juga termasuk orang yang menerapkan pola makan seperti itu ketika melaksanakan puasa, apalagi ketika di bulan puasa ramadhan, adalah suatu hal yang tidak mengherankan jika akhirnya tubuh kita akan mengalami gangguan kesehatan.
Sangat disayangkan bukan jika kita malah sakit di bulan yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak ibadah ini, karena pola makan yang keliru. Berikut beberapa cara mengatur pola makan di bulan puasa supaya kesehatan tetap terjaga.
- Pada Saat Sahur
- Pada Saat Berbuka