← Kembali ke Informasi Terkini
Agar Tidak ‘Lebar’-An Setelah Ramadhan
Tri Wiji Utami, S.Gz - Bulan Ramadhan selalu menjadi momentum bagi banyak orang untuk menata kembali pola makan dan pola hidup. Menyadari bahwa makan bukan sekedar proses memasukkan segala jenis makanan dan minuman ke dalam perut. Selain memperoleh balasan pahala ibadah puasa dari Allah, tanpa kita sadari mengatur pola makan selama bulan puasa memberikan banyak nilai kebaikan. Bukan hanya manfaat kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental dan spiritual.
Mari kita ingat kembali apa yang terjadi bila kita berpuasa. Puasa selama sebulan penuh telah memicu terjadinya fat loss karena puasa meningkatkan pembakaran lemak tubuh sehingga dapat menurunkan berat badan yang berlebih. Hal ini karena selama berpuasa, tubuh banyak menggunakan sumber energi berupa cadangan glukosa yang tersimpan di hati, yang kita kenal dengan istilah glikogen. Cadangan glikogen ini cukup untuk puasa selama 12-16 jam. Jadi, sesaat setelah sahur, tubuh akan menyerap zat-zat gizi dari makanan yang kita konsumsi, mengubahnya menjadi glukosa yang beredar dalam darah dan digunakan sebagai sumber energi utama. Glukosa darah ini dari waktu ke waktu akan terus berkurang seiring dengan penggunaannya dalam proses metabolisme. Pada saat glukosa darah menurun sementara tak ada asupan yang masuk, maka tubuh akan menggunakan glikogen sebagai sumber tenaganya. Kemudian ketika simpanan glikogen telah menipis, maka tubuh akan beralih menggunakan simpanan lemak. Lemak adalah cadangan energi utama selama berpuasa. Bila kita menerapkan pola makan dan mengkonsumsi dengan tidak berlebihan, maka dapat dipastikan terjadi penurunan berat badan, perbaikan komposisi lemak tubuh dan lemak viseral. Terlebih bila kita menerapkan pola makan seimbang dan sehat yang menggunakan sesedikit mungkin minyak dan lemak pada pengolahannya.
Penurunan berat badan yang dialami oleh mereka yang berpuasa berkisar 1,5 kg pada minggu pertama puasa, 1 kg pada minggu kedua dan paling banyak 0,5 kg pada minggu ketiga. Sedangkan pada minggu keempat berat badan jarang dapat diturunkan lagi. Kondisi ini terjadi karena terjadi penurunan basal metabolisme dari minggu ke minggu sebagai adaptasi tubuh karena kurangnya asupan makanan sehingga kebutuhan energi pun juga menurun.
Kondisi penurunan basal metabolisme terjadi hingga minggu keempat, dan bertahan hingga minggu kelima dan selanjutnya. Akan tetapi, di minggu kelima ada hari raya Idul Fithri dimana tersedia berbagai jenis makanan lezat melimpah. Frekuensi makan juga meningkat seiring dengan frekuensi bertamu dan menerima tamu selama hari raya, sehingga asupan energi dari makanan akan bertambah dan berlebih. Akibatnya, terjadi peningkatan berat badan dengan cepat hingga 3 kg dalam waktu 5 hari pasca idul fithri.
Untuk menghindari lonjakan berat badan seusai ramadhan, sebaiknya lakukan perubahan pola makan secara perlahan. Lakukan transisi secara bertahap, dengan tetap menerapkan pola makan selama puasa.
Bagaimana langkah-langkahnya?
- Puasa Sunnah
- Pola Makan Teratur
- Jangan Lewatkan Sarapan
- Batasi pula camilan yang Anda konsumsi di antara jeda waktu makan
Sebaiknya, perbanyak konsumsi makanan rendah kalori seperti tomat, selada, labu siam, ketimun, dan lain-lain.
- Membatasi porsi makan di malam hari
- Konsumsi buah sebagai pengganti gula
- Makan perlahan
- Berolahraga
- Tidur yang cukup