← Kembali ke Informasi Terkini
Penggunaan Laser Pada Terapi Batu Saluran Kemih
dr. Adhika Restanto Purnomo, Sp.U - Batu saluran kemih adalah salah satu penyakit yang banyak di derita penduduk di Indonesia. Pola diet, suhu lingkungan dan genetis penduduk di Indonesia dipercaya dapat memacu terbentuknya batu di saluran kemih. Indonesia adalah salah satu negara yang dijuluki stone belt karena hal tersebut. Penderita batu saluran kemih lebih banyak pria dibanding wanita, hal ini disebabkan adanya peran hormon estrogen pada wanita yang saat belum menopause ikut menjaga agar tidak terbentuk batu.
Saluran kemih terbentang dari sistema pelvocicalices ginjal sampai urethra, di setiap saluran tersebut berpotensi terdapat batu. Batu saluran kemih primer terbentuk di dalam ginjal, sedangkan batu sekunder, atau batu yang terbentuk karena kelainan anatomis lain, dapat terbentuk juga di saluran kemih yang lain. Batu primer yang terbentuk di ginjal dapat mengalami migrasi ke sepanjang saluran kemih lain, namun dapat juga menetap di ginjal menjadi batu ginjal yang cukup besar. Sedangkan contoh batu sekunder adalah batu buli yang terbentuk karena pembesaran prostat, yang menyebabkan residu urin yang banyak di buli dan memicu terbentuknya endapan yang kemudian dapat menjadi batu.
Tehnik pengobatan pada batu saluran kemih makin lama makin berkembang. Jika pada awal batu hanya bisa diambil secara pembedahan maka saat ini tindakan yang dilakukan lebih cenderung minimal invasif ataupun non invasif dengan hasil stone free rate (angka bebas batu) yang hampir sama dengan terapi pembedahan sehingga dapat mengurangi morbiditas dan komplikasi pasien post operasi dan mempersingkat waktu rawat pasien. Hal ini tentu berpengaruh pada kepuasan pasien dalam pelayanan, karena kadang-kadang beberapa pasien menolak untuk dilakukan pembedahan secara terbuka.
Beberapa terapi yang saat ini sedang berkembang di antaranya :
- Terapi non invasif, contohnya ESWL (Electro Shockwave Litotripsi). Dengan ESWL pasien tidak perlu mengalami risiko pembiusan maupun pembedahan, karena batu dipecahkan dengan gelombang kejut dari luar tubuh yang difokuskan ke batu dengan menggunakan alat c-arm dan USG.
- Terapi minimal invasif, contohnya PCNL (Percutaneus Nefrolitotripsi), URS (Ureterorenoskopi), litotripsi, RIRS (Retrograde Intrarenal Surgery). Pada PCNL batu dapat dipecahkan melalui sebuah sayatan kecil, sedangkan pada URS, litoripsi batu buli dan RIRS, batu dipecahkan melalui alat endourologi yang dimasukkan melalui urethra.
- Wein J.A., Partin A.W., et all. Campbell-Walsh Urology, 11th edition. 2016.
- Nur Rasyid, Duarsa, et all. Panduan Penatalaksanan Klinis Batu Saluran Kemih IAUI. 2018.
- Purnomo B. Dasar-dasar Urologi, Edisi Ketiga. Malang. 2016.