← Kembali ke Informasi Terkini

Berita

Pengaruh Lingkungan Kerja Terhadap Stres Kerja Karyawan

Tim Promkes RSST - Lingkungan kerja merupakan sebagian dari komponen yang sangat penting ketika karyawan melakukan aktivitas bekerja. Dengan memperhatikan lingkungan kerja yang baik akan menciptakan kondisi kerja yang mampu memberikan motivasi untuk bekerja, maka akan membawa pengaruh terhadap semangat karyawan dalam bekerja. Selain itu lingkungan kerja adalah keseluruhan alat perkakas, bahan yang dihadapi, lingkungan, metode kerja yang berada di sekitar pekerjaan serta pengaturan kerjanya baik sebagai individu maupun kelompok. Dalam sebuah penelitian disebutkan secara garis besar, dimensi lingkungan kerja terbagi menjadi 2 (dua) yaitu :
  1. Lingkungan Kerja Fisik
Adalah semua keadaan berbentuk fisik yang terdapat di sekitar tempat kerja yang dapat mempengaruhi pegawai baik secara langsung maupun secara tidak langsung.
  1. Lingkungan Kerja Non-Fisik
Adalah semua keadaan yang terjadi yang berkaitan dengan hubungan kerja, baik hubungan dengan atasan maupun sesama rekan kerja, ataupun hubungan dengan bawahan. Lingkungan kerja non-fisik juga termasuk metode kerjanya, serta pengaturan kerjanya baik sebagai perseorangan maupun sebagai kelompok yang di dalamnya terdapat indikator jumlah jam istirahat, efektivitas jam kerja, dan keamanan. Selain dimensi lingkungan kerja tentunya juga terdapat faktor-faktor lingkungan organisasi, dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa setiap perusahaan tentunya mempunyai cara atau suatu fakta yang mendukung demi keberhasilan dan kemajuan perusahaan. Ada beberapa faktor yang berkaitan dengan lingkungan organisasi, yaitu :
  1. Hubungan Karyawan
Dalam hubungan karyawan ini terdapat 2 (dua) hubungan, yaitu hubungan sebagai individu dan hubungan sebagai kelompok. Hubungan sebagai individu, motivasi yang diperoleh seorang karyawan datangnya dari rekan-rekan sekerja maupun atasan. Menjadi sebuah motivasi, jika hubungan karyawan dengan rekan sekerja maupun atasannya berlangsung harmonis. Begitu juga sebaliknya, jika hubungan di antara mereka tidak harmonis, maka akan mengakibatkan kurangnya atau tidak adanya motivasi di dalam diri karyawan yang bekerja. Sedangkan untuk hubungan sebagai kelompok, maka seseorang karyawan akan berhubungan baik dengan banyak orang, baik secara individu maupun secara kelompok. Dalam hubungan ini terdapat beberapa yang mendapatkan perhatian agar keberadaan kelompok ini menjadi lebih produktif, yaitu :
  • Kepimimpinan yang baik.
  • Distribusi informasi yang baik.
  • Kondisi kerja yang baik.
  • Sistem pengupahan yang jelas.
  1. Tingkat Kebisingan Lingkungan
Lingkungan kerja yang tidak tenang atau bising akan dapat menimbulkan pengaruh yang kurang baik, yaitu adanya ketidaktenangan dalam bekerja. Bagi para karyawan tentu saja ketenangan lingkungan kerja sangat membantu dalam penyelesaian pekerjaan dan ini dapat meningkatkan produktivitas kerja.
  1. Peraturan Kerja
Peraturan kerja yang baik dan jelas dapat memberikan pengaruh yang baik terhadap kepuasan dan kinerja para karyawan untuk pengembangan karir di perusahaan tersebut. Dengan perangkat peraturan tersebut karyawan akan dituntut untuk menjalankan aktivitasnya guna mencapai tujuan perusahaan maupun tujuan individu dengan pasti. Di samping itu karyawan akan lebih termotivasi untuk bekerja lebih baik.
  1. Penerangan
Dalam hal ini, penerangan bukanlah sebatas pada penerangan listrik, tetapi termasuk juga penerangan matahari. Karyawan memerlukan penerangan yang cukup, apalagi jika pekerjaan yang dilakukan menuntut ketelitian. Untuk melaksanakan penghematan biaya maka dalam usaha penerangan hendaknya diusahakan dengan sinar matahari. Jika suatu ruangan memerlukan penerangan lampu maka ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu biaya dan pengaruh lampu tersebut terhadap karyawan yang sedang bekerja.
  1. Sirkulasi Udara
Untuk sirkulasi atau pertukaran udara yang cukup maka pertama yang harus dilakukan yakni pengadaan ventilasi. Ventilasi harus cukup lebar terutama pada ruangan-ruangan yang dianggap terlalu panas. Bagi perusahaan yang merasa pertukaran udaranya kurang atau kepengapan masih dirasakan, dapat mengusahakan pengaturan suhu udara. Cara untuk mengatur suhu udara sebagai berikut :
  • Ventilasi yang cukup.
  • Pemasangan kipas angin atau AC.
  • Pemasangan humidifier.
  1. Keamanan
Lingkungan kerja dengan rasa aman akan menimbulkan ketenangan dan kenyamanan, dimana hal ini akan dapat memberikan dorongan semangat untuk bekerja. Keamanan yang dimaksudkan ke dalam lingkungan kerja adalah keamanan terhadap milik pribadi karyawan.
  1. Stres Kerja
Dunia pekerjaan dan kehidupan yang penuh dengan tekanan (underpresure) sering menyebabkan seseorang mengalami stres. Kata stres bagi mereka yang tinggal diperkotaan seperti dianggap kata biasa yang sering diucapkan. Target pekerjaan dan keinginan hidup layak secara cepat juga sering menimbulkan stres, sehingga banyak orang mulai ingin belajar tentang bagaimana mengendalikan. Dalam sebuah penelitian disebutkan stres kerja adalah perasaan yang dialami karyawan dalam menghadapi pekerjaannya yang menimbulkan rasa tertekan. Stres kerja ini tampak dari tanda- tanda antara lain emosi tidak stabil, perasaan tidak tenang, suka menyindiri, sulit tidur, merokok yang berlebihan, tidak bisa rileks, cemas, tegang, gugup, dan tekanan darah meningkat. Selain hal tersebut stres kerja adalah suatu kondisi ketegangan yang menciptakan adanya ketidakseimbangan fisik dan psikis, yang mempengaruhi emosi, proses berpikir, dan kondisi seorang karyawan. Tentunya dalam hal ini stres kerja juga pasti terdapat sumber yang mempengaruhi stres kerja, yaitu sumber penekan stres kerja atau disebut stressors. Stressors adalah suatu kondisi, kondisi, situasi, atau peristiwa yang dapat menyebabkan stres. Selain itu dalam sebuah penelitian mengemukakan bahwa sumber stres dapat bersumber dari faktor lingkungan, faktor organisasi, dan faktor individu. Adapun sumber stres dalam lingkungan kerja sebagai berikut :
  • Stres yang bersumber dari lingkungan fisik (pshycal environment stressor).
Stres yang bersumber dari lingkungan fisik disini di antaranya adalah : kondisi penerangan di tempat kerja, tingkat kebisingan, keluasan wilayah kerja.
  • Stres yang bersumber dari tingkatan individu (individual level stressor).
Yang dimaksud dengan sumber ini adalah stres yang berkaitan dengan peran yang dimainkan dan tugas-tugas yang harus diselesaikan sehubungan dengan posisi seseorang di lingkungan kerjanya.
  • Stres yang bersumber dari kelompok dan organisasi.
Stres yang bersumber dari kelompok ini bersumber dari hasil interaksi individu-individu dalam suatu kelompok yang disebabkan perbedaan-perbedaan di antara mereka, baik perbedaan sosial maupun psikologis, sedangkan stres yang bersumber dari organisasi timbul dari keinginan-keinginan organisasi atau lembaga sehubungan dengan pencapaian tujuan organisasi atau lembaga tersebut. Kendati demikian berdasarkan ulasan di atas selain pengaruh dimensi lingkungan kerja, lingkungan organisasi dan sumber stres, tentunya pendekatan stres juga menjadi sebuah hal yang patut di perhitungkan dalam pencegahan stres dalam pekerjaan. Stres dalam pekerjaan dapat dicegah timbulnya dan dapat dihadapi tanpa memperoleh dampaknya yang negatif. Manajemen stres lebih dari sekedar mengatasinya, yakni belajar menanggulanginya secara adaptif dan efektif. Pendekatan stres kerja dikelompokkan menjadi 2 (dua) yaitu :
  1. Pendekatan Individual
Seorang karyawan dapat berusaha sendiri untuk mengurangi tingkat stresnya. Strategi yang bersifat individual yang cukup efektif adalah pengelolaan waktu, latihan fisik, latihan relaksasi, dan dukungan sosial.
  1. Pendekatan Organisasional
Penyebab-penyebab stres adalah tuntutan dari tugas dan peran serta struktur organisasi yang semuanya dikendalikan oleh manajemen, sehingga faktor-faktor itu dapat diubah. Strategi-strategi yang dapat digunakan oleh manajemen perusahaan untuk mengurangi stres kerja karyawannya adalah melalui seleksi dan penempatan, penetapan tujuan, desain ulang pekerjaan, pengambilan keputusan partisipatif, komunikasi organisasi, dan program kesejahteraan. Sehingga hal tersebut diharapkan dapat mengurangi stres dalam pekerjaan yang berpengaruh pada gejala fisiologis, yaitu : sakit kepala atau migren, detak jantung meningkat, dan sesak nafas.  Gejala psikologis, yaitu : perasaan tegang, dan kehilangan semangat kerja. Gejala perilaku, yaitu : kehilangan nafsu makan, menunda / menghindar dari pekerjaan yang terlalu banyak diberikan perusahaan.           Referensi               :
  1. Gaol, C. J. 2014. A to Z Human Capital Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : PT. Grasindo.
  2. Hamali, A. Y. 2016. Pemahaman Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : CAPS.
  3. Pasih Noordiansah. 2016. Pengaruh Lingkungan Kerja Terhadap Stres Kerja Perawat.
  4. Pratiwi, D. M., & Wahyuningtyas, R. 2016. Karyawan (Studi pada PT. Krakatau Steel (Persero) TBK. DIVISI, 1-10.
  5. Rizki, M. 2016. Studi pada Karyawan PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur Area Pelayanan, 41(1), 9-1.
  6. Aktiva - Jurnal Penelitian Ekonomi dan Bisnis Vol 2. No.2 Desember 2018.