← Kembali ke Informasi Terkini
Penggunaan dan Pelayanan Obat Pengikat Zat Besi pada Pasien Thalasemia
Klaten, Selasa 13 September 2022, Tim Promosi Kesehatan dan Pemasaran RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro (RSST) menyelenggarakan siaran kesehatan dengan tema “Penggunaan dan Pelayanan Obat Pengikat Zat Besi pada Pasien Thalasemia”. Narasumber Dra. Partini, M.Sc, Apt. Acara diselenggarakan di radio sentral RSST.
Thalasemia adalah penyakit kelainan darah yang ditandai dengan kondisi sel darah merah mudah rusak atau umumnya lebih pendek dari pada sel darah normal. Akibatnya penderita Thalasemia akan mengalami gejala Anemia diantaranya pusing, muka pucat, badan sering lemas, susah tidur, nafsu makan hilang dan infeksi berulang. Penderita Thalasemia tidak memiliki mekanisme yang efektif dalam menghilangkan kelebihan zat besi, sehingga keseimbangan zat besi dalam tubuh diatur dengan mengontrol penyerapannya. Bila cadangan besi cukup maka absorpsinya menurun sebaliknya bila cadangan besi rendah maka absorpsinya akan meningkat. Kelebihan zat besi merupakan komplikasi utama dari Transfusion Dependent Thalassemia (TDT) dan memerlukan terapi kelasi besi. Dengan obat yang berfungsi tidak hanya menghilangkan besi dari tubuh tetapi juga mengikat besi bebas dengan kuat untuk mencegah pembentukan Reactive Oxygen Species (ROS).
Klasifikasi Thalasemia ada 2:
- Thalassemia α
- Thalasemia β
- Thalasemia Mayor, karena sifat gen dominan ditandai dengan kurangnya kadar Hemoglobin dalam darah. Akibatnya penderita kekurangan darah merah yang bisa menyebabkan Anemia. Dampak lebih lanjut, sel- sel darah merahnya jadi lebih rusak dan umurnya pun sangat pendek hingga yang bersangkutan memerlukan transfusi darah untuk memperpanjang hidupnya. Penderita Thalasemia Mayor tampak normal saat lahir namun di usia 3- 18 bulan akan mulai terlihat adanya gejala Anemia. Selain itu juga bisa muncul gejala lain seperti jantung berdetak lebih kencang dan Facies Cooley. Facies Cooley adalah ciri khas Thalasemia Mayor yakni batang hidung masuk ke dalam dan tulang pipi menonjol akibat sumsum tulang yang bekerja terlalu keras untuk mengatasi kekurangan Hemoglobin. Penderita Thalasemia Mayor akan tampak memerlukan perhatian lebih khusus. Pada umumnya penderita Thalasemia Mayor harus menjalani transfusi darah dan pengobatan seumur hidup. Seberapa sering transfusi darah ini diperlukan, tergantung dari berat ringannya penyakit. Yang pasti, semakin berat penyakitnya, semakin sering pula penderita harus menjalani transfusi darah.
- Thalasemia Minor
- Desferoxamine (DFO)
- Deferipron(DFP)
- Deferasirox (DFX)
- Kombinasi antara Deferipron dan Deferasirox
- Tanzani Meida Astrid. 2019. Kajian Penggunaan Obat Kelasi Besi Pada Pasien Thalasemia Anak-Anak Di Salah Satu Rumah Sakit Kuningan. Program Studi Strata 1 Farmasi Sekolah Tinggi Farmasi Bandung.
- Hijriani Hera, dkk. 2020. Hubungan Kepatuhan Tranfusi Darah dan Konsumsi Kelasi Besi terhadap Pertumbuhan Anak dengan Thalasemia Mayor. STIKes Yayasan Pendidikan Imam Bonjol Majalengka. Jurnal Kampus Volume 8 Nomer 2.
