← Kembali ke Informasi Terkini

Berita

<strong>Apa Itu <em>Bell’s Palsy</em> ?</strong>

Klaten, Kamis 8 Desember 2022, Tim Promosi Kesehatan dan Pemasaran RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro (RSST) menyelenggarakan penyuluhan kesehatan dengan tema “Apa Itu Bell’s Palsy ?”. Narasumber Bapak Tri Hartanto, SSt.Ft. Acara diselenggarakan di ruang tunggu Instalasi Rehabilitasi Medik RSST.

Bell’s Palsy adalah  kondisi lumpuhnya saraf wajah akibat peradangan dan pembengkakan saraf yang mengontrol otot pada salah satu sisi wajah, merupakan penyakit yang mengakibatkan kelumpuhan otot-otot wajah bersifat akut, sebab tidak jelas diduga terjadi karena infeksi/peradangan. Penyakit ini dapat terjadi pada siapa saja usia 20-50 tahun dan wanita lebih banyak mengalaminya daripada laki-laki. Masalah kecacatan yang ditimbulkan oleh Bell’s palsy cukup kompleks yaitu meliputi Impairment (kelainan di tingkat organ) berupa ketidaksimetrisnya wajah, kaku dan bahkan bisa berakibat terjadi kontraktur, Disability atau ketidakmampuan (ditingkat individu) berupa keterbatasan dalam aktivitas sehari-hari berupa gangguan makan dan minum, menutup mata, serta gangguan berbicara dan ekspresi wajah, Handicap (di tingkat lingkungan) berupa keterkaitan dalam profesi terutama dibidang Entertainment dan masalah selanjutnya dari segi kejiwaan penderita.

Penyebab

Penyebab Bell’s Palsy belum diketahui secara pasti, tetapi kondisi ini terjadi karena saraf yang mengendalikan otot wajah tertekan atau terganggu, yang biasanya diakibatkan oleh peradangan/ infeksi.

Tanda dan gejala

  • Ketidakmampuan mengerutkan alis
  • Ketidakmampuan menutup mata
  • Kelopak mata terkulai
  • Tonus otot Fasia asimetris
  • Hilangnya lipatan Nasolabial (kerutan yang dalam atau garis yang terbentuk dari bagian bawah hidung ke sudut mulut)
  • Area mulut yang tampak jatuh
  • Senyum asimetris

Komplikasi

Komplikasi jangka panjang cenderung muncul apabila:

  • Penderita terserang palsy komplit, sehingga paralisis di satu sisi wajah
  • Mengalami nyeri parah saat pertama kali timbul gejala
  • Saraf Facialis ( saraf kranialis ke-7 berperan besar dalam mengatur ekspresi dan indra perasa di kulit wajah manusia) rusak berat Diabetes
  • Tidak ada perbaikan setelah dua bulan terlewati
  • Kerusakan permanen pada saraf wajah
  • Kehilangan kemampuan mengecap rasa
  • Gangguan bicara

Sekitar 14% penderita mungkin terserang Bell’s palsy di kemudian hari pada sisi wajah lain. Hal ini cenderung muncul apabila ada riwayat Bell’s palsy pada keluarga.

Penanganan

1.Medis (Masa Akut)

Obat-obatan, mengurangi nyeri, bengkak dan obat untuk persyarafan.

2.Fisioterapi dapat dilakukan dengan Infra Red, Electrical Stimulasi, Massage wajah, Miror exercise / senam wajah

3.Akupuntur

Pencegahan

Bell’s palsy tidak bisa dicegah, namun anda dapat menurunkan risiko terjadinya kondisi ini dengan melakukan upaya-upaya berikut:

  • Mengontrol penyakit yang dapat menyebabkan Bell’s palsy
  • Menghindari paparan udara dingin yang berlebihan
  • Menurunkan berat badan atau menjaga berat badan agar tetap ideal

Antusias peserta sangat baik serta ada umpan balik pertanyaan dari pasien kepada narasumber.

Daftar Pustaka

  • Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kasus Bell’s Palsy Dextra di RSUP dr. Sardjito Yogyakarta. Alfian Ade Putranto. Program Studi Diploma III Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta.
  • Adam Mahardani Olivia. Bell’s palsy. 2019. Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah Surabaya. Jurnal Ilmiah Kedokteran Wijaya Kusuma Volume 8 Nomer 1.