← Kembali ke Informasi Terkini
Mengenal Diskalkulia
Tim Promkes RSST, Setiap individu selalu mengalami perubahan. Perubahan individu merupakan manivestasi dari proses belajar. Hasil belajar adalah semua aktivitas belajar yang ditunjukkan dengan perubahan tingkah laku individu tersebut. Jadi belajar bukan sekedar suatu hasil melainkan juga suatu proses dan pengalaman dari aktivitas belajar. Oleh karena itu belajar berlangsung secara aktif dan integratif dengan menggunakan berbagai bentuk perbuatan untuk mencapai suatu perubahan.
Setiap siswa tidak hanya melibatkan kemampuan fisik, akan tetapi juga melibatkan kemampuan mental secara kognitif. Kemampuan mental tersebut yang dibutuhkan siswa untuk melihat kesiapan siswa dalam aktivitas belajar. Dalam sebuah ulasan, mengatakan bahwa perubahan yang terjadi akibat belajar merupakan perubahan yang erat kaitannya dengan aspek mental atau kejiwaan dan dapat berpengaruh terhadap tingkah laku.
Setiap siswa mempunyai kemampuan mental yang berbeda dalam menyerap stimulus yang diperlukan sebagai proses belajar. Hal itu selaras dengan ulasan yang menyatakan bahwa perbedaan tersebut terjadi sebagai akibat latar belakang hereditas dan lingkungan mereka yang berbeda pula. Dalam ulasan lainnya disampaikan bahwa kemampuan mental yang berbeda pada tiap-tiap individual dikarenakan perbedaan operasi yang ada, baik dari sel-sel otak, alat-alat indera bahkan pada bagian-bagian lain dari sistem syaraf dalam otak.
Kita ketahui pastinya Tiap siswa mempunyai cara belajar yang berbeda-beda, tidak semua mampu menangkap pelajaran dengan baik, beberapa dari mereka ada yang merasa susah untuk menangkap pelajaran dan sebagian yang lain dapat dengan mudahnya menerima apa yang dipelajari. Hal tesebut sering ditemui pada tiap siswa dalam aktivitas belajar. Dengan adanya perbedaan aktivitas belajar, menyebabkan terjadinya perbedaan tingkah laku tiap siswa. Siswa yang susah melakukan aktivitas belajar inilah disebut dengan kesulitan belajar. Dalam sebuah ulasan lainya berasumsi bahwa masalah yang menyebabkan seseorang mengalami kesulitan dalam belajar dapat berupa sindrom psikologis yaitu berupa ketidakmampuan belajar (learning disability). Salah satu sindrom psikologis yang mengganggu aktivitas belajar dikenal dengan sebutan diskalkulia.
Diskalkulia merupakan suatu ketidakmampuan belajar (learning disability) dengan salah satu cirinya yaitu kekacauan dalam berhitung. Dalam ulasan lainnya disampaikan diskalkulia ialah ketidakmampuan berhitung yang penyebabnya gangguan pada sistem saraf pusat. Ketidakmampuan berhitung akibat gangguan sistem saraf yang dimaksud adalah siswa lemah pada kemampuan persepsi sosial, juga lemah terhadap konsep arah dan waktu, serta terkena gangguan memori. Begitu pula siswa yang mengalami kesulitan dalam membedakan bentuk geometrik, simbolik, konsep angka, bahkan kesulitan dalam melakukan operasi matematika seperti operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian serta pembagian dengan mahir. Diskalkulia merupakan kesulitan belajar dalam berhitung padahal keterampilan berhitung merupakan salah satu dasar dalam menyelesaikan masalah dalam matematika dan merupakan sarana yang penting untuk menguasai bidang studi lainnya.
Dalam sebuah penelitian disampaikan, bahwa sekitar 3 – 7 % anak yang duduk di bangku sekolah dasar (SD) mengalami diskalkulia. Meski kondisi ini lebih sering ditemukan pada anak-anak dengan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), namun demikian diskalkulia bukan termasuk dalam gangguan mental.
Berikut adalah beberapa Ciri – ciri anak diskalkulia yang perlu kita kenali :
- Panik setiap kali bertemu pelajaran matematika atau kecewa jika menemukan permainan atau game yang membutuhkan kemampuan berhitung
- Masih menghitung dengan jari ketika anak lain seusianya sudah tidak lagi melakukannya
- Sulit memperkirakan ukuran, misalnya berapa tinggi sesuatu atau berapa lama perjalanan dari satu tempat ke tempat lain
- Sulit memahami perhitungan matematika dasar, seperti pertambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian
- Sulit menghubungkan antara angka dengan kata yang mewakilinya (1 dengan ‘satu’)
- Sulit menghitung uang dan kembalian
- Sulit membaca jam dan mengingat kombinasi angka seperti nomor telepon
- Kesulitan mengikuti petunjuk bertahap dan mengenali pola
- Bingung dengan angka yang mirip, seperti 75 dan 57
- Bisa mengerjakan soal matematika pada suatu hari, tapi keesokan harinya sama sekali lupa caranya
- Mengenali gaya belajar yang tepat
- Membicarakan kondisi ini dengan guru di sekolah
- Memuji setiap usaha anak
- Membantu anak mengelola kecemasan