← Kembali ke Informasi Terkini
Body dysmorphic disorder
Tim Promkes RSST, Bagi sebagian orang, kekurangan yang terdapat pada tubuh atau fisik menjadi salah satu hal yang cukup mengganggu. Mulai dari masalah jerawat, bentuk tubuh, berat badan, tinggi badan, dan lain sebagainya. Sebenarnya, kekurangan yang terdapat pada fisik adalah suatu hal yang normal bagi setiap orang. Meski begitu, tidak semua orang dapat dengan mudah menerima kekurangan tersebut. Bahkan, pada beberapa kasus tertentu, seseorang dapat merasa cemas atau takut secara berlebihan atas kekurangan yang ada pada tubuhnya. Misalnya, seperti orang yang sering mengeluh tubuhnya gemuk, walaupun orang lain masih menganggap kondisi tubuhnya normal. Bisa jadi, orang yang sering mengalami perasaan dan pikiran tersebut, memiliki kondisi boody dysmorphic disorder. Body dismorphic disorder atau gangguan dismorfik tubuh adalah kondisi kesehatan mental di mana Anda tidak dapat berhenti memikirkan satu atau lebih dari kekurangan atau cacat dari penampilannya. Orang yang mengalami dismorfik tubuh sering kali merasa cemas dan terlihat kerap berulang kali memeriksa cermin. Bukan hanya itu, terdapat beberapa gejala body dysmorphic disorder lainnya yang perlu Anda perhatikan. Seperti adanya keyakinan kuat memiliki cacat pada tubuh, keyakinan orang lain selalu memperhatikan dan memandang negatif, dan lain sebagainya. Gangguan dismorfik tubuh adalah kondisi kesehatan mental di mana seseorang tidak dapat berhenti memikirkan satu atau lebih cacat atau kekurangan yang dirasakan dalam penampilan. Bahkan, cacat yang menjadi fokus dari seseorang tersebut hanya tampak kecil atau bahkan tidak disadari sama sekali oleh orang lain.
Penyebab Body Dysmorphic Disorder
Penyebab utama body dysmorphic disorder tidak diketahui dengan pasti. Meski begitu, kondisi ini diduga muncul akibat kombinasi dari beberapa faktor berikut ini :- Genetik
- Kelainan struktur otak
- Lingkungan
- Menderita gangguan mental lain seperti gangguan mental lain, seperti gangguan kecemasan atau depresi
- Memiliki sifat tertentu, misalnya perfeksionis atau rasa rendah diri
- Memiliki orang tua atau keluarga yang terlalu kritis terhadap penampilannya
Gejala Body Dysmorphic Disorder
Penderita body dysmorphic disorder memiliki pikiran negatif atau rasa cemas terhadap kekurangan dari satu atau beberapa anggota tubuh. Pikiran negatif itu dapat timbul karena penderita menganggap bentuk anggota tubuhnya tidak ideal. Anggota tubuh yang sering dicemaskan penderita antara lain :- Wajah, misalnya karena bentuk hidung terlalu pesek
- Kulit, misalnya karena ada keriput, jerawat, atau luka
- Rambut, misalnya karena rambut menipis, rontok, atau mengalami kebotakan
- Payudara atau alat kelamin, misalnya karena ukuran penis terlalu kecil atau payudara terlalu besar
- Tungkai, misalnya karena ukuran paha yang besar
- Bercermin berulang-ulang dalam waktu lama
- Menyembunyikan anggota tubuh yang dianggap tidak sempurna
- Meminta orang lain meyakinkan dirinya berulang kali bahwa kekurangan bentuk tubuhnya tidak terlalu jelas terlihat
- Berulang kali mengukur atau menyentuh area tubuh yang dianggap tidak sempurna
- Berolahraga terlalu sering dan dalam waktu yang lama
- Mengonsumsi suplemen gizi secara berlebihan
- Menyalahgunakan steroid
Kapan harus ke dokter
Sebaiknya Anda berkonsultasi ke dokter bila menyadari adanya perilaku yang tidak wajar dalam menilai penampilan, terutama bila perilaku tersebut :- Mengganggu pekerjaan, prestasi di sekolah, atau hubungan dengan orang lain
- Menghilangkan keinginan untuk pergi ke tempat umum dan merasa cemas jika berada di antara orang lain
Pemeriksaan Body Dysmorphic Disorder
Dokter biasanya akan merujuk pasien yang berulang kali meminta operasi plastik ke psikiater. Untuk mengetahui penyebabnya dan memberikan penanganan yang tepat, psikiater akan melakukan penilaian kondisi kejiwaan pasien dengan cara:- Menanyakan riwayat kondisi medis serta hubungan sosial pasien dan keluarganya
- Melakukan evaluasi psikologis untuk mengetahui faktor risiko, pikiran, perasaan, serta perilaku yang terkait dengan pandangan negatif pasien terhadap dirinya
Penanganan Body Dysmorphic Disorder
Penanganan terhadap body dysmorphic disorder dilakukan dengan kombinasi antara terapi perilaku kognitif dan pemberian obat-obatan, seperti dijelaskan di bawah ini : Terapi Perilaku Kognitif Terapi perilaku kognitif untuk gangguan dismorfik tubuh berfokus pada :- Membantu pasien mempelajari bagaimana pikiran negatif, reaksi emosional, dan perilaku mempertahankan masalah dari waktu ke waktu.
- Menantang pikiran negatif otomatis tentang citra tubuh pasien dan mempelajari cara berpikir yang lebih fleksibel.
- Mempelajari cara-cara alternatif untuk menangani dorongan atau ritual untuk membantu mengurangi pemeriksaan cermin atau pencarian kepastian;
- Mengajari pasien perilaku lain untuk meningkatkan kesehatan mental, seperti mengatasi penghindaran sosial.
- Inhibitor Reuptake Serotonin Selektif (SSRI). Oleh karena gangguan dismorfik tubuh diperkirakan sebagian disebabkan oleh masalah yang berkaitan dengan serotonin kimia otak, SSRI diresepkan. SSRI tampaknya lebih efektif untuk gangguan dismorfik tubuh, daripada antidepresan lain dan dapat membantu mengendalikan pikiran negatif dan perilaku berulang.
- Obat Lain. Dalam beberapa kasus, pasien mendapat manfaat dari minum obat lain selain SSRI, tergantung pada gejala yang terjadi.