← Kembali ke Informasi Terkini
Hematochezia
Tim Promkes RSST, Hematochezia adalah munculnya darah segar pada tinja atau feses. Masalah kesehatan ini biasanya muncul karena adanya perdarahan pada saluran cerna bagian bawah, misalnya karena wasir atau kanker usus besar. Meski kerap disamakan, hematochezia ternyata tidak sama dengan melena. Ketika hematochezia terjadi, keluarnya darah memiliki warna merah segar. Sementara itu, darah yang keluar pada melena berwarna merah sedikit kehitaman. Ini disebabkan karena perdarahan yang terjadi pada saluran cerna di bagian bawah letaknya tak jauh dari anus. Hematochezia sendiri tak selalu menunjukkan kondisi serius. Meski demikian, masalah kesehatan ini tetap harus mendapatkan penanganan yang tepat. Pasalnya, hematochezia yang tidak mendapatkan penanganan atau ditangani dengan tidak maksimal akan meningkatkan risiko terjadinya banyak komplikasi yang membahayakan, seperti syok, anemia, bahkan kematian.
Hematochezia umumnya terjadi karena perdarahan di saluran pencernaan bagian bawah, seperti akibat wasir atau kanker usus besar. Hematochezia berbeda dengan melena. Pada penderita hematochezia, darah yang keluar berwarna merah segar. Sedangkan pada penderita melena, darah yang keluar berwarna hitam. Hal ini terjadi karena perdarahan yang terjadi di saluran pencernaan bagian bawah terletak tidak jauh dari anus.
Hematochezia tidak selalu menandakan kondisi yang serius. Namun, kondisi ini tetap perlu mendapatkan penanganan yang tepat karena berisiko menimbulkan komplikasi berbahaya, seperti anemia, syok, bahkan kematian.
Penyebab Hematochezia
Hematochezia umumnya disebabkan oleh perdarahan di saluran pencernaan bagian bawah, seperti usus besar dan rektum. Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan terjadinya perdarahan pada saluran pencernaan adalah :- Wasir
- Luka pada anus (fisura ani)
- Kanker usus besar
- Kolitis ulseratif
- Polip usus besar
- Tumor jinak di usus besar atau rektum
- Penyakit Crohn
- Radang pada lapisan rektum (proctitis)
- Diverkulitis
- Peradangan usus besar atau usus halus pada bayi (necrotizing enterocolitis)
- Intususepsi
- Iskemia usus
- Alergi susu sapi
- Tonjolan pada bawah usus kecil (Meckel’s diverticulum)
Faktor risiko hematochezia
Sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang menderita hematochezia adalah:- Usia lanjut (lansia)
- Riwayat gangguan saluran pencernaan dalam keluarga
- Konsumsi minuman beralkohol secara berlebihan
- Konstipasi atau sembelit
- Perut kembung
Gejala Hematochezia
Gejala hematochezia dapat bervariasi, tergantung pada penyebabnya. Meski demikian, gejala utama hematochezia adalah darah segar berwarna merah terang yang keluar bersama feses. Selain Keluarnya darah saat BAB, ada beberapa gejala lain yang dapat menyertai hematochezia, yaitu:- Sakit perut
- Demam
- Diare
- Perubahan pola buang air besar
- Penurunan berat badan
Pemeriksaan Hematochezia
Jika hasil pemeriksaan mendeteksi darah dalam feses, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui penyebabnya, seperti :- Tes darah, untuk mengetahui jumlah sel darah, memeriksa kecepatan proses pembekuan darah, serta memeriksa fungsi organ hati
- Kolonoskopi, untuk melihat kondisi usus besar dengan memasukkan selang berkamera melalui anus
- Biopsi, untuk mengambil sampel jaringan guna diperiksa di laboratorium
- Foto Rontgen, untuk melihat kondisi saluran pencernaan dengan bantuan sinar X atau menggunakan larutan barium
- Angiografi, untuk melihat kerusakan pada pembuluh darah dengan menyuntikkan cairan kontras ke pembuluh darah
- Radionuclide scan, untuk melihat kerusakan pada pembuluh darah dengan menyuntikkan bahan radioaktif ke pembuluh darah
- Laparotomi, untuk melihat sumber perdarahan dengan cara bedah terbuka pada perut
Penanganan Hematochezia
Pengobatan hematochezia bertujuan untuk menghentikan perdarahan, mengatasi anemia akibat perdarahan, serta mencegah perdarahan terjadi kembali. Untuk menghentikan perdarahan, dokter dapat melakukan beberapa prosedur berikut:- Endoskopi, seperti kolonoskopi, untuk menghentikan perdarahan dalam saluran pencernaan dengan cara dipanaskan atau menyuntikkan obat di area perdarahan
- Angiographic embolization, untuk menutup aliran pembuluh darah yang rusak dengan menyuntikkan partikel khusus di pembuluh darah tersebut
- Band ligation, untuk menghentikan perdarahan dengan cara memasang karet khusus di area pembuluh darah yang pecah
- Tidak mengonsumsi obat antiinflamasi nonsteroid, seperti diclofenac dan aspirin
- Melakukan rendam duduk, yaitu dengan merendam bokong pada wadah berisi air hangat
- Mengonsumsi makanan tinggi serat, seperti sayuran dan buah