← Kembali ke Informasi Terkini
“Mengenal Asfiksia Neonatorum”
Klaten, Senin 24 Juli 2023, Tim Promosi Kesehatan dan Pemasaran RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro (RSST) menyelenggarakan penyuluhan kesehatan dengan tema “Mengenal Asfiksia Neonatorum”. Narasumber Ns. Desi Ismayanti, S.Kep. Acara diselenggarakan di Ruang Tunggu NICU RSST.
Asfiksia Neonatorum adalah keadaan bayi tidak bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir, seringkali bayi yang sebelumnya mengalami gawat janin akan mengalami Asfiksia sesudah persalinan. Gangguan ini mungkin berkaitan dengan keadaan ibu, tali pusat atau masalah pada bayi selama atau sesudah persalinan. Asfiksia Neonatorum merupakan salah satu sindrom distres pernapasan dimana terjadi kegagalan napas pada bayi baru lahir. Asfiksia terjadi karena kurangnya aliran darah ataupun pertukaran gas dari atau ke janin pada bayi baru lahir. Jika keadaan ini tidak ditangani secara cepat dan tepat maka dapat menyebakan kerusakan organ vital (otot, hati, jantung, dan paling parah otak).
Penyebab
- Faktor ibu
- Preeklampsia dan Eklampsia
- Perdarahan abnormal (Plasenta Previa, Solutio Plasenta)
- Partus lama
- Demam selama persalinan
- Mengalami infeksi berat kahamilan Post Matur
- Usia ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun
- Gravida empat atau lebih
- Faktor bayi
- Bayi prematur
- Persalinan sulit
- Kelainan Kongenital
- Air ketuban bercampur Mekonium
- Faktor tali pusat
- Lilitan tali pusat
- Tali pusat pendek
- Simpul tali pusat
- Prolapsus tali pusat
- Preeklampsia
- Cairan ketuban terdapat Mekonium
- Persalinan lama lebih dari 24 jam
- Gawat janin
- Perdarahan selama kehamilan
- Berat badan lahir rendah
- Kelahiran Prematur
- Persalinan secara operasi Caesar
- Persalinan menggunakan alat bantu
- Diabetes Mellitus Gestasional
- Asfiksia ringan
- Asfiksia sedang
- Asfiksia berat
- Asfiksia ringan
- Takipnea dengan nafas lebih dari 60 kali per menit
- Bayi tampak Sianosis
- Adanya retraksi sela iga
- Bayi merintih
- Bayi kurang aktivitas
- Asfiksia sedang
- Frekuensi jantung menurun menjadi 60- 80 kali per menit
- Usaha nafas lambat
- Tonus otot biasanya dalam keadaan baik
- Bayi masih bisa bereaksi terhadap rangsangan yang diberikan
- Bayi tampak Sianosis
- Tidak terjadi kekurangan oksigen yang bermakna selama proses persalinan
- Asfiksia berat
- Frekuensi jantung kecil yaitu kurang 40 kali per menit
- Tidak ada usaha nafas
- Tonus otot lemah bahkan hamper tidak ada
- Bayi tidak dapat memberikan reaksi jika diberikan rangsangan
- Bayi tampak pucat bahkan sampai berwarna kelabu
- Terjadi kekurangan oksigen yang berlanjut sebelum atau sesudah persalinan
- Memberitahu ibu dan keluarga bahwa kondisi bayinya yang tidak menangis spontan saat lahir
- Melakukan tindakan penanganan Asfiksia yaitu resusitasi
- Melakukan asuhan pasca resusitasi
- Memberikan injeksi vit K
- Menghangatkan bayi, memakaikan pakaian bayi, bedong bayi, serta topi kemudian memasukkan bayi ke dalam inkubator
- Menjelaskan pada ibu dan keluarga bahwa bayinya dalam kondisi baik namun belum bisa di rawat gabung karena bayi perlu dipantau lebih lanjut
- Melakukan observasi tanda- tanda vital bayi setiap 1 jam
- Mengganti pakaian, popok bayi setiap kali kotor dan basah
- Hamidi Septiani Meri. 2018. Faktor- Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Asfiksia Neonatorum di Ruangan Perinatologi RSUD DR. M Yunus Bengkulu Tahun 2018. Skripsi Prodi DIV Kebidanan Bengkulu Politeknik Kesehatan Kemenkes Bengkulu Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
- Dhamayanti Mutia. 2018. Hubungan Preeklampsia dengan Kejadian Asfiksia Neonatorum pada Bayi Baru Lahir di RSUD Wonosari Tahun 2017. Skripsi Prodi Sarjana Terapan Kebidanan Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Yogyakarta.
