← Kembali ke Informasi Terkini
“Mengenal Tuberkulosis Anak”
Klaten, Kamis 5 Oktober 2023 Tim Promosi Kesehatan Rumah Sakit RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro (RSST) menyelenggarakan siaran kesehatan dengan tema “Mengenal Tuberkulosis Anak”. Acara diselenggarakan di ruang radio sentral RSST.
Tuberkulosis (TB) terjadi karena adanya infeksi dari bakteri Mycobacterium Tuberculosis. TB Paru anak adalah penyakit TB Paru yang mengenai anak berusia 0 – 14 tahun yang digolongkan dalam kelompok umur 0 – 4 tahun dan 5 – 14 tahun. Tuberkulosis umumnya menginfeksi paru, kelenjar getah bening, selaput otak, kulit, tulang dan persendian, usus, ginjal dan organ tubuh lainnya. TBC tidak hanya dapat diderita oleh orang dewasa, namun juga anak-anak. Ukuran bakteri TB sangat kecil sehingga bakteri TB yang berada dalam droplet yang terhirup dan masuk kedalam alveolus. Bakteri TB berbentuk batang, memiliki dinding lemak yang tebal, pertumbuhannya lambat, tahan akan zat asam dan alkohol maka disebut sebagai basil tahan asam (BTA). Adapun penyebab dari kasus Tuberkulosis pada anak dapat terjadi karena beberapa faktor, salah satunya adalah anak yang sering digendong dan dicium oleh orang lain. Hal tersebut terjadi dikarenakan penularan Tuberkulosis oleh penderita terjadi ketika penderita batuk atau bersin. bila penderita melakukan kontak langsung seperti mencium dan memeluk anak-anak, terutama yang daya tahan tubuhnya kurang bagus, sehingga anak tersebut memiliki risiko tinggi untuk terpapar Tuberkulosis.
Penyebab
Penyebab Tuberkulosis pada anak berasal dari infeksi bakteri Mycobacterium Tuberculosis.
Gejala Tuberkulosis pada Anak
Gejala klinis Tuberkulosis pada anak dapat berupa gejala umum atau sesuai organ yang terkait.
1.Gejala umum
-
- Berat badan turun atau tidak naik dalam 2 bulan sebelumnya atau terjadi gagal tumbuh meskipun telah dilakukan upaya perbaikan gizi yang baik dalam waktu 1-2 bulan
- Demam lama (2 minggu) dan/ atau berulang tanpa sebab yang jelas
- Batuk lama (2 minggu). Batuk bersifat tidak pernah reda atau intensitas semakin lama semakin parah, dan sebab lain batuk telah dapat disingkirkan. Batuk tidak membaik dengan pemberian antibiotika atau obat asma
- Lesu atau malaise, anak kurang aktif bermain
- Penurunan kesadaran, kejang dan gejala keterlibatan syaraf – syaraf otak (pada TB Meningitis)
- Penonjolan tulang belakang (TB tulang)
- Pasien TB Anak terkonfirmasi bakteriologis : anak yang terdiagnosis dengan hasil pemeriksaan bakteriologis positif.
- Pasien TB Anak terdiagnosis secara klinis : anak yang tidak memenuhi kriteria diagnosis secara bakteriologis, tetapi didiagnosis sebagai pasien TB oleh dokter, dan diputuskan untuk diberikan pengobatan TB.
- Status gizi
- Riwayat kontak Tuberkulosis
- Usia imunisasi BCG
- Pembersian ASI eksklusif
- Keberadaan perokok dan sanitasi lingkungan
- Osteoporosis
- Gagal tumbuh,
- Tuberkulosis Ekstrapulmonal
- Anamnesis, Gejala klinis, meliputi : penurunan berat badan, demam ≥2 minggu, batuk ≥2 minggu, riwayat kontak dengan pasien TB, lesu/ kurang aktif bermain, keringat malam, dan batuk darah.
- Pemeriksaan fisik. Didapatkan status gizi kurang atau buruk, anak demam dan napas cepat, dan pemeriksaan paru yang bervariasi.
- Pemeriksaan penunjang
- Konfirmasi bakteriologis TB (BTA, TCM atau kultur)
- Gejala klinis yang khas TB
- Adanya bukti infeksi TB (hasil uji mantoux positif atau kontak erat dengan penderita TB)
- Gambaran foto toraks sugestif TB
- Dini Pratiwi. 2021. Epidemiologi Spasial Kasus Tuberkulosis (TB) Paru Anak di Kota Medan Tahun 2016-2020. Skripsi Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN Sumatera Utara Medan.
- Yustikarini Kamalina, Magdalena Sidhartani. 2015. Faktor Risiko Sakit Tuberkulosis pada Anak yang Terinfeksi Mycobacterium Tuberculosis. Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro/ RSUP Dr. Kariadi, Semarang. Jurnal Sari Pediatri Volume 17 Nomer 2.
