← Kembali ke Informasi Terkini
“Bagaimana Penggunaan Insulin yang Tepat ?”
Klaten, Kamis 2 November 2023 Tim Promosi Kesehatan Rumah Sakit RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro (RSST) menyelenggarakan siaran kesehatan dengan tema “Bagaimana Penggunaan Insulin yang Tepat ?”. Narasumber Novi Perdana Riptaning Murti, S.Farm, Apt. Acara diselenggarakan di ruang radio sentral RSST.
Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik Hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya. Ada beberapa tipe Diabetes Melitus yaitu Diabetes Melitus tipe 1 (karena faktor genetik autoimun), Diabetes Melitus tipe 2 (karena adanya resistensi Insulin), Diabetes Melitus Gestasional (Diabetes Melitus yang terjadi saat kehamilan), Diabetes Melitus tipe lainnya (Diabetes Melitus karena pemakaian obat maupun penyakit lainnya). Diagnosis Diabetes Melitus ditegakkan dengan pemeriksaan kadar glukosa darah dan HbA1c. Pemeriksaan glukosa darah yang dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa secara Enzimatik dengan bahan plasma darah vena. Pemantauan hasil pengobatan dapat dilakukan dengan Glukometer. Penyakit Diabetes Melitus tidak dapat disembuhkan tetapi dilakukan pengontrolan kadar gula darah guna menghindari adanya komplikasi. Pengontrolan dilakukan dengan mengkonsumsi obat anti Diabetes Melitus. Obat Diabetes Melitus ada yang oral maupun suntikan Insulin. Tidak semua pasien Diabetes Melitus membutuhkan Insulin. Ada beberapa kondisi yang membuat pasien perlu melakukan suntik Insulin.
Penggunaan Insulin digunakan pada keadaan :
- HbA1c saat diperiksa 7.5% dan sudah menggunakan satu atau dua obat anti Diabetes Melitus
- HbA1c saat diperiksa > 9%
- Penurunan berat badan yang cepat
- Hiperglikemia berat yang disertai Ketosis
- Krisis Hiperglikemia
- Gagal dengan kombinasi OHO (Obat Hipoglikemik Oral) dosis optimal
- Stres berat (infeksi sistemik, operasi besar, infark miokard akut, stroke)
- Kehamilan dengan Diabetes Melitus/Diabetes Melitus Gestasional yang tidak terkendali dengan perencanaan makan
- Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat
- Kontraindikasi dan atau alergi terhadap OHO
- Kondisi perioperatif sesuai dengan indikasi
- Insulin kerja cepat (Rapid-Acting Insulin) adalah jenis suntik Insulin yang bisa menurunkan kadar gula darah dalam waktu cepat dan lama kerjanya 3-5 jam. Insulin jenis ini digunakan 10-15 menit sebelum makan. Contohnya: Humalog, Novorapid
- Insulin kerja pendek (Short-acting insulin) adalah jenis suntik Insulin yang bisa menurunkan kadar gula darah dalam waktu cepat, namun tak secepat Insulin Rapid Acting dan lama kerjanya 4-5 jam. Insulin jenis ini digunakan 30 menit sebelum makan. Contohnya: Humulin R
- Insulin kerja menengah (Intermediate-Acting Insulin) menengah adalah jenis Insulin yang bisa menurunkan kadar gulah darah dengan lama kerja 8 - 12 jam. Insulin jenis ini digunakan 1 kali sehari dalam waktu yang sama dan teratur. Contohnya: NPH, Humulin N
- Insulin kerja panjang (Long-Acting Insulin) adalah jenis Insulin kerja panjang yang dapat melakukan kontrol gula darah hingga 12-24 jam. Insulin jenis ini digunakan 1 kali sehari pada malam hari. Contohnya: Lantus, Determir, Levemir
- Insulin kerja ultra panjang (Ultra Long-Acting Insulin) adalah jenis Insulin yang bekerja sangat panjang, tidak mempunyai waktu puncak bisa melakukan kontrol gula darah hingga 36 jam. Contohnya : Degludec
- Insulin campuran tetap, adalah insulin dengan kerja pendek dengan menengah dan kerja cepat dengan menengah (Premixed insulin), diberikan 10-30 menit sebelum makan pagi dan makan malam. Dapat melakukan control gula darah selama 10-16 jam. Contohnya : Humalog mix 75/25; Humulin 70/30
- Efek samping utama terapi insulin adalah terjadinya Hipoglikemia
- Efek samping yang lain berupa reaksi alergi terhadap Insulin
