← Kembali ke Informasi Terkini

Berita

“Apa itu Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) ?”

Klaten, Kamis 9 November 2023 Tim Promosi Kesehatan Rumah Sakit RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro (RSST) menyelenggarakan siaran kesehatan dengan tema “Apa itu Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) ?”. Narasumber Pitriana Hentiarsih Kusumadewi, S.Kep, Ns. Acara diselenggarakan di ruang radio sentral RSST. BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah) adalah bayi yang dilahirkan dengan berat badan kurang dari 2.500 gram tanpa melihat masa kehamilan. BBLR adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram tanpa memandang masa gestasi, berat lahir adalah berat yang ditimbang 1 (satu ) jam setelah lahir. BBLR dibagi menjadi dua kategori yakni BBLR disebabkan prematur (persalinan pada usia kehamilan <37 minggu) dan BBLR disebabkan retardasi pertumbuhan intrauteri atau bayi yang lahir pada usia kehamilan >37 minggu namun berat lahir badan <2500 gram. BBLR masih menjadi penyebab utama kematian pada bayi di  Indonesia, menurut data Riskesdas tahun 2018 (Kemkes, 2018) prevalensi BBLR pada anak umur 0-59 bulan di Indonesia masih 6,2 %, prevalensi BBLR ini cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Berat badan lahir adalah salah satu indikator tumbuh kembang mulai masa anak-anak hingga masa dewasa dan gambaran status gizi yang diperoleh janin dalam kandungan.BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah) adalah salah satu dari sekian masalah pada defisiensi zat gizi di beberapa wilayah. Bayi dengan BBLR akan mengalami proses hidup jangka panjang yang kurang baik. Kemungkinan lainnya ialah bila tidak meninggal di awal kelahiran, bayi BBLR berisiko tumbuh dan berkembang lebih lambat dibandingkan bayi yang lahir dengan berat badan normal. Penyebab dan faktor resiko
  1. 4T
Tingginya kasus-kasus BBLR tersebut kemungkinan disebabkan karena masih banyak ibu hamil dengan resiko tinggi yaitu 4T atau yang biasa disebut dengan 4 terlalu yaitu ibu hamil terlalu muda, terlalu tua, terlalu banyak punyak anak dan terlalu pendek jarak melahirkan antara anak yang satu dengan yang lainnya.
  1. Penyakit HIV, Sipilis dan Hepatitis B serta kondisi Pre eklamsi, anemia ibu hamil.
Kondisi ibu yang terinfeksi virus bisa mengakibatkan gangguan kehamilan dan kelahiran prematur. BBLR dapat disebabkan oleh gangguan pertumbuhan di dalam uterus.Pertumbuhan intra uteri dan berat lahir dipengaruhi oleh potensi pertumbuhan herediter dan efektivitas dari lingkungan uteroplasenta yang bergantung dari kesehatan ibu dan dan penyakit pada ibu.
  1. Kunjungan ANC < 4 kali
Faktor BBLR lainnya adalah jumlah kunjungan ANC (Antenatal Care) atau pemeriksaan kehamilan yang kurang dari  empat kali. Kunjungan ANC sebanyak ≥4 kali memiliki makna penting bagi ibu hamil supaya petugas kesehatan dapat memantau dan memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang anak, meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik dan mental, mengenali secara dini adanya komplikasi dan kecacatan, dan mempersiapkan persalinan cukup bulan. Gejala
  1. Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) prematuritas murni, yaitu BBLR yang mengalami masa gestasi kurang dari 37 minggu. Berat badan pada masa gestasi itu pada umumnya biasa disebut neonatus kurang bulan untuk masa kehamilan.
  2. Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dismatur, Yaitu BBLR yang memiliki berat badan yang kurang dari seharusnya pada masa kehamilan. BBLR dismatur dapat lahir pada masa kehamilan preterm atau kurang bulan-kecil masa kehamilan, masa kehamilan term atau cukup bulan-kecil masa kehamilan, dan masa kehamilan post-term atau lebih bulan-kecil masa kehamilan.
Pemeriksaan Bayi lahir didiagnosa sebagai BBLR jika bayi yang lahir ditimbang dalam 1 jam setelah kelahiran berat badan kurang dari 2500 gram. Penanganan BBLR memerlukan perawatan khusus karena mempunyai permasalahan yang banyak sekali pada sistem tubuhnya disebabkan kondisi tubuh yang belum stabil : ketidakstabilan suhu tubuh, gangguan pernafasan, imaturitas imunologis, masalah Gastrointestinal dan nutrisi, imaturitas hati, Hipoglikemi Konsekuensi dari anatomi dan fisiologi yang belum matang menyebabkan bayi BBLR cenderung mengalami masalah yang bervariasi. Hal ini harus diantisipasi dan dikelola pada masa neonatal. Penatalaksanaan yang dilakukan bertujuan untuk mengurangi stress fisik maupun psikologis. Adapun penatalaksanaan BBLR meliputi : 1.Dukungan respirasi 2.Termoregulasi Menghangatkan dan mempertahankan suhu tubuh bayi dapat dilakukan melalui beberapa cara yaitu : Kangaroo Mother Care atau kontak kulit dengan kulit antara bayi dengan ibunya. Jika ibu tidak ada dapat dilakukan oleh orang lain sebagai penggantinya, pemancar pemanas, ruangan yang hangat, inkubator 3Perlindungan terhadap infeksi 4.Hidrasi 5.Nutrisi 6.Penghematan energi 7.Stimulasi Sensori 8.Dukungan dan Keterlibatan Keluarga Pencegahan Pemantauan ibu hamil adalah salah satu upaya untuk mendeteksi faktor resiko terjadinya BBLR. Selain itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum hamil agar setiap pasangan dapat merencanakan sebaik mungkin kehamilan yang akan datang sehingga dapat melahirkan bayi yang normal dan sehat, yaitu : a.Menganjurkan agar melakukan konsultasi atau konseling pra-hamil. Mempersiapkan seorang wanita mengahadapi kehamilan sampai persalinan dengan berbagai risikonya, baik secara fisik maupun batin. b.Menganjurkan agar calon ibu diimunisasi TT atau imunisasi pra nikah untuk mencegah penyakit tetanus. c.Menganjurkan agar ibu rajin untuk pemeriksaan kehamilan. d.Untuk ibu hamil dianjurkan makan lebih banyak dan lebih sering yang dapat memenuhi kesehatan gizi bagi ibu hamil dan janinnya. e.Untuk mempersiapkan kehamilan yang sehat dianjurkan agar ibu menghindari alkohol dan rokok, karena alkohol dapat mengganggu tumbuh kembang janin sementara rokok akan menyebabkan kelahiran prematur atau kelainan letak plasenta (ari-ari) pada janin. Selain itu, rokok juga dapat menyebabkan plasenta janin mudah lepas, kelainan bawaan pada bayi dan yang paling membahayakan ketuban pecah (dini) tidak pada waktunya. Daftar Pustaka Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Pelayanan Kesehatan Neonatal Esensial. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. Mahayana, S. A. S., Chundrayetti, E., & Yulistini. (2015). Faktor Risiko yang Berpengaruh terhadap Kejadian Berat Badan Lahir Rendah di RSUP dr. M. Djamil Padang. Jurnal Kesehatan Andalas, 4(3), 664–673.