← Kembali ke Informasi Terkini

Berita

“Apa itu Benign Prostatatic Hyperplasia ( BPH ) ?”

Klaten, Kamis 23 November 2023 Tim Promosi Kesehatan Rumah Sakit RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro (RSST) menyelenggarakan siaran kesehatan dengan tema “Apa itu Benign Prostatatic Hyperplasia ( BPH ) ?”. Narasumber Satik Isnaini, AMK. Acara diselenggarakan di ruang radio sentral RSST. Benign Prostatic Hyperplasia ( BPH ) adalah kondisi dimana kelenjar prostat mengalami pembesaran yang berakibat aliran urin menjadi tidak lancar dan buang air kecil terasa tidak tuntas. Kelenjar prostat hanya dimiliki oleh laki-laki. Sehingga penyakit ini hanya dialami oleh laki-laki. Hampir semua laki-laki mengalami pembesaran prostat, terutama pada usia 60 tahun ke atas. Tingkat keparahan berbeda-beda pada tiap penderita dan tidak semua pembesaran prostat menimbulkan masalah. Kelenjar prostat terletak di bawah kandung kemih. Kelenjar prostat berfungsi untuk memproduksi air mani. Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) dapat memberikan keluhan yang mengganggu aktivitas sehari-hari, meskipun jarang mengancam jiwa. Keluhan tersebut dapat berupa lower urinary tracts symptom (LUTS) yang terdiri dari beberapa jenis iritatif. Keluhan yang terjadi pada BPH ini akibat pembesaran pada kelenjar prostat atau benign prostate enlargement yang menyebabkan terjadinya obstruksi pada leher bulibuli dan uretra atau dikenal sebagai bladder outlet obstructions (BOO). Obstruksi tersebut dapat menimbulkan perubahan struktur pada buli-buli ataupun ginjal apabila terjadi dalam waktu yang lama. Penyebab Belum diketahui apa yang menyebabkan pembesaran prostat jinak. Kondisi ini diduga terkait dengan perubahan pada keseimbangan kadar hormon seksual seiring pertambahan usia laki-laki. Faktor risiko Ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan seseorang terkena pembesaran prostat jinak yaitu :
  1. Berusia diatas 60 tahun
  2. Kurang berolah raga
  3. Memiliki berat badan berlebih
  4. Menderita penyakit jantung atau diabetes
  5. Rutin mengonsumsi obat Hipertensi jenis penghambat beta
  6. Memiliki riwayat keluarga yang mengalami gangguan prostat
Tanda dan gejala
  1. Urin sulit keluar diawal buang air kecil
  2. Mengejan saat buang air kecil
  3. Aliran urin lemah atau tersendat
  4. Urin menetes diakhir buang air kecil
  5. Buang air kecil terasa tidak tuntas
  6. Buang air kecil di malam hari menjadi lebih sering
  7. Beser atau Inkontinensia
Pemeriksaan
  1. USG prostat, untuk melihat ukuran prostat
  2. Tes urin, untuk menyingkirkan kemungkinan infeksi atau kondisi lain yang mempunyai gejala mirip dengan pembesaran prostat jinak
  3. Tes pengukuran kadar Antigen ( PSA ) dalam darah. PSA yang dihasilkan oleh prostat dan kadarnya dalam darah akan meningkat bila kelenjar prostat membesar atau mengalami gangguan
Penanganan 1.Mandiri Bila gejala yang dirasakan tergolong ringan, pasien bisa melakukan penanganan secara mandiri di rumah, untuk mengurangi gejala yaitu dengan : a.Menghindari minum apapun 1-2 jam sebelum tidur. b.Membatasi asupan makanan yang mengandung kafein dan alcohol c.Membatasi konsumsi obat batuk- pilek yang mengandung dekongestan dan antihistamin. d.Tidak menahan atau menunda buang air kecil e.Membuat jadwal buang air kecil, misalnya tiap 4 atau 6 jam f.Menjaga berat badan ideal g.Berolahraga secara teratur h.Mengelola stres dengan baik   2.Dengan obat-obatan Bila dengan perawatan mandiri tidak bisa meredakan gejala, dokter dapat meresepkan obat-obatan berikut : a.Penghambat Alfa seperti tasulosin, untuk memudahkan buang air kecil b.Penghambat 5-alpha Redustase, seperti Finasteride atau Dutasteride, untuk mengecilkan ukuran prostat.   3.Operasi Ada sejumlah metode operasi prostat yang bisa dilakukan oleh dokter urologi untuk mengatasi pembesaran prostat jinak diantaranya : a.Transurethral Resection of The Prostat ( TURP ) TURP merupakan metode operasi yang paling sering dilakukan untuk mengangkat kelebihan jaringan prostat. Dalam prosedur ini, jaringan prostat yang menyumbat diangkat sedikit demi sedikit, menggunakan alat khusus yang dimasukan melalui lubang kencing b.Transurethral Incision of The Prostate ( TUIP ) TUIP tidak mengangkat jaringan prostat, tetapi membuat irisan kecil pada prostat agar aliran urine menjadi lancar. Prosedur ini dilakukan pada pembesaran prostat yang ukurannya kecil hingga sedang. Pencegahan
  1. Menghindari asupan air 1–2 jam sebelum tidur
  2. Tidak menunda ataupun menahan buang air kecil
  3. Mengurangi konsumsi alkohol dan kafein
  4. Olahraga secara teratur
  5. Mengatasi stres
  6. Menjaga berat badan ideal dan menerapkan pola makan sehat
Daftar Pustaka Sutanto, R, 2021. Benign Prostatic Hyperplasia : Update Treatment and Prevention Manajement. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesi, 8(3),pp.90-7 Prasetyo, Z., Budaya, T., & Daryanto, B. 2021. Characteristics of Benign Prostatic Hyperplasia ( BPH ) Patients Undergoing Transuretharal Resectin of the Prostate ( TURP ). Jurnal Kedokteran Brawijaya, 31(4), pp.220-3