← Kembali ke Informasi Terkini

Berita

“Mengenal Spondilitis Tuberculosis”

Klaten, Senin 19 Februari 2024, Tim Promosi Kesehatan Rumah Sakit RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro (RSST) menyelenggarakan siaran kesehatan dengan tema “Mengenal Spondilitis Tuberculosis”. Narasumber Yuli Wahyu Utami, Ners. Acara diselenggarakan di ruang radio sentral RSST. Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksi kronik disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar kuman Tuberkulosis ditemukan di parenkim paru dan menyebabkan TB paru, tetapi bakteri ini mempunyai kemampuan untuk menginfeksi organ lain (TB Ekstra Paru) seperti pada tulang. Infeksi TB yang mengenai tulang belakang disebut dengan Spondilitis Tuberkulosis atau Pott’s Disease. Indonesia menempati urutan ketiga dengan kasus TB paling banyak di Dunia setelah India dan China. Penyakit ini sulit didiagnosis secara dini, sehingga sering kali penderita mendapatkan pengobatan pada keadaan lanjut dimana deformitas Kifosis dan kecacatan Neurologis sudah terjadi. Pada awalnya diagnosis Spondilitis Tuberculosis sulit ditegakkan dan disalahartikan sebagai Neoplasma Spinal atau Spondilitis Piogenik lainnya. Diagnosis biasanya baru dapat ditegakkan pada stadium lanjut saat sudah terjadi deformitas tulang belakang yang berat dan defisit neurologis yang bermakna seperti (Paraplegia) atau kelumpuhan pada dua kaki. Gejala Gejala Tuberkulosis tulang tidak spesifik dan perjalanan klinisnya lambat sehingga menyebabkan keterlambatan diagnosis. Gejala klinis dari Spondilitis TB meliputi nyeri lokal, nyeri tekan lokal, rasa kaku, abses dingin, gibbus (deformitas yang teraba pada beberapa vertebrae) dan penonjolan deformitas spinal. Perkembangan spondilitis TB berjalan lambat dan berbahaya. Durasi total penyakit bervariasi dari beberapa bulan sampai dengan beberapa tahun, rata-rata durasi penyakit ini mulai dari 4 sampai dengan 11 bulan. Biasanya penderita mulai mencari pertolongan medis ketika terdapat nyeri yang berat, kelainan bentuk yang terlihat ataupun adanya gejala neurologis. Sumber lain menyebutkan gejala yang ditimbulkan pada Spondilitis TB antara lain demam, keringat terutama malam hari, penurunan berat badan dan nafsu makan, terdapat masa di tulang belakang, Kiposis, kadang-kadang berhubungan dengan kelemahan dari tungkai dan Paraplegi. Nyeri punggung belakang merupakan gejala yang paling sering pada Spondilitis TB. Intensitas nyeri bervariasi mulai dari nyeri ringan tumpul konstan sampai dengan nyeri berat yang melumpuhkan. Nyeri dapat diperberat dengan gerakan tulang belakang, batuk dan menahan beban. Faktor resiko
  1. Memiliki riwayat penyakit Tuberkulosis sebelumnya,
  2. Terpapar orang yang terinfeksi Tuberkulosis dalam waktu lama
  3. Kemiskinan dan lingkungan padat penduduk
  4. Kondisi medis: Malnutrisi, Diabetes Mellitus, HIV, penyakit Ginjal Kronis, defisiensi vitamin D, penyalahgunaan alkohol, penyalahgunaan obat
  5. Penggunaan obat-obatan: Imunosupresan, kortikosteroid
Cara Penularan Spondilitis TB terjadi pada penderita TB paru, namun bisa menyerang orang yang tidak pernah mengalami TB paru sebelumnya. Kondisi ini pun dapat ditularkan oleh penderita TB tulang belakang yang juga mengidap TB paru melalui percikan air liur (Droplet) ketika penderita bersin atau batuk. Sementara itu, penderita Spondilitis TB yang tidak memiliki TB paru dapat menularkan penyakitnya melalui darah atau nanah dari luka. Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi adalah Kiposis berat. Hal ini terjadi oleh karena kerusakan tulang yang terjadi sangat hebat sehingga tulang yang mengalami destruksi sangat besar. Hal ini juga akan mempermudah terjadinya (Paraplegia)/ kelumpuhan pada dua kaki yang dikenal dengan istilah Pott’s Paraplegia. Komplikasi lain yaitu dapat menyebabkan Meningitis akibat penyebaran infeksi TB ke selaput otak dan kematian. Pemerikasaan
  1. Kultur bakteri yaitu pemeriksaan sampel darah atau dahak
  2. Biopsi yaitu pengambilan jaringan yang mengalami infeksi
  3. Tes cairan tubuh seperti pengambilan cairan Pleura dari paru-paru dan cairan Serebrospinal jika terdapat kecurigaan infeksi TB di paru-paru dan otak
  4. Tes PCR untuk mendeteksi materi genetik dari bakteri penyebab TB
  5. Tes imunologi dengan mengambil sampel darah atau cairan tubuh untuk mendeteksi antibodi yang melawan bakteri penyebab infeksi TB
  6. Pemeriksaan radiologi dapat membantu dalam menegakkan diagnosis Spondilitis Tuberkulosis. Pemeriksaan radiologi yang dapat dilakukan yaitu sinar-X, Computed Tomography Scan (CT-scan) dan Magnetic Resonance Imaging (MRI).
Pencegahan Cara terbaik dalam mencegah atau menurunkan risiko Spondilitis Tuberculosis (TB) adalah dengan melakukan vaksinasi. Vaksin yang diberikan untuk mencegah kondisi ini adalah vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guerin). Namun, efektivitas vaksin BCG lebih besar untuk bayi daripada orang dewasa. Penanganan 1.Medikamentosa (obat- obatan) Terapi Obat Anti TB (OAT) lini pertama sebagai terapi utama dan diberikan dengan menggunakan regimen yang sama dengan TB paru tetapi dengan jangka waktu pengobatan yang lebih lama. 2.Imobilisasi dengan tirah baring atau gips badan (Body Cast) Tindakan ini dilakukan pada penyakit yang telah lanjut dan bila tidak tersedia fasilitas dan keterampilan yang cukup untuk melakukan operasi radikal spinal anterior ataupun terdapat masalah teknik yang membahayakan. Istirahat dengan menggunakan gips dapat melindungi tulang belakang dalam posisi ekstensi terutama pada fase akut. 3.Latihan ROM Latihan ROM pada anggota gerak dilakukan dengan tujuan untuk mencegah kontraktur dan atrofi otot. Dengan demikian apabila masalah Spondilitis Tuberkulosis telah teratasi, pasien tidak mengalami kontraktur dan atrofi otot pada ekstremitas. 4.Operasi Antusias peserta sangat baik serta ada umpan balik pertanyaan dari pasien kepada narasumber. Daftar Pustaka Basalamah, et al. (2020). Spondilitis Tuberkulosis: Perbaikan Yang Signifikan Setelah Intervensi Dini. Jurnal Biomedika Dan Kesehatan, 3(3): 137-143. Kusmiati, Tutik dan Hapsari Paramita Narendrani. (2016). Pott’s Disease. Jurnal Respirasi, 2(3): 99-109.