← Kembali ke Informasi Terkini
“Mengenal Toxoplasmosis”
Klaten, Rabu 21 Februari 2024, Tim Promosi Kesehatan Rumah Sakit RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro (RSST) menyelenggarakan siaran kesehatan dengan tema “Mengenal Toxoplasmosis”. Narasumber Diana Trifi Yulianti, S.Tr.Keb., Bdn. Acara diselenggarakan di ruang radio sentral RSST.
Toxoplasmosis merupakan penyakit zoonosis yaitu penyakit pada hewan yang dapat ditularkan ke manusia. Toksoplasmosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh protozoa Toxoplasma gondii. Toxoplasma gondii merupakan parasit obligat intraselular yang memiliki siklus hidup kompleks pada hewan berdarah panas, termasuk manusia sebagai hospes perantara dan kucing sebagai hospes definitif. Toksoplasmosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh Toxoplasma Gondii yaitu golongan parasit protozoa yang bersifat obligat intraseluler. Infeksi Toxoplasma gondii terjadi melalui oral karena konsumsi produk hewan yang terkontaminasi ookista dan tidak dimasak dengan matang, makanan yang terkontaminasi parasit bradizoit, kontak dengan kotoran hewan peliharaan seperti kucing yang mengandung ookista, atau menyebar secara vertikal dan hematogen dari ibu ke janin melalui plasenta.
Faktor risiko
Orang yang berisiko untuk tertular T.gondii adalah wanita, pria, anak-anak, orang yang mendapat obat-obat imunosupresif jangka panjang seperti resipien transplantasi, orang dengan imunodefisiensi seluler seperti AIDS dan orang yang memelihara hewan piaraan kucing dilingkungan dengan sanitasi yang buruk. Untuk tertular penyakit Toksoplasmosis tidak hanya terjadi pada orang yang memelihara kucing karena pada manusia Toksoplasmosis masuk melalui saluran pencernaan melalui perantara makanan atau minuman yang terkontaminasi agen peyebab toksoplasmosis misalnya karena minum susu sapi segar atau makan daging dan sayuran yang belum matang sempurna. Faktor risiko tinggi lainnya seperti pekerjaan yaitu wanita yang bekerja di sektor peternakan, pertanian dan ibu rumah tangga. Wanita yang aktif bekerja sebagai petani akan bersentuhan langsung dengan tanah yang rentan ookista. Toksoplasmosis tidak menular dari manusia ke manusia, kecuali transmisi dari ibu ke anak (kongenital) dan transfusi darah atau transplantasi organ.
Gejala
Infeksi Toksoplasmosis yang didapat biasanya bersifat subklinis dan asimtomatis. Pada 10-20% kasus yang menimbulkan gejala, pasien akan menunjukkan karakteristik seperti flu dengan gejala demam, limfadenopati, malaise, mialgia, dan bercak kemerahan berbentuk makulopapular pada telapak tangan dan kaki. Masa inkubasi sampai timbul gejala biasanya berkisar antara 1 sampai 2 minggu. Gejala yang mungkin timbul pada infeksi ringan yaitu nyeri limfadenopati pada area servikal dan oksipital, bertahan hingga 4-6 minggu, atau gejala nonspesifik berupa myalgia, nyeri kepala, bercak pada kulit, atau sakit tenggorokan selama satu bulan atau lebih. Pada individu yang imunokompeten, penyakit ini bersifat benigna dan self-limited. Hepatomegali juga dapat terjadi. Gejala lainnya yang jarang ditemukan yaitu miokarditis, polimiositis, pneumonitis, hepatitis, atau ensefalitis.
Pemeriksaan
Diagnosis Toksoplasmosis akut ditegakkan bila ditemukan parasit dalam darah atau cairan tubuh, ditemukan kista dalam plasenta atau jaringan lain pada individu, adanya antigen dan/atau organisme dalam potongan preparat jaringan atau cairan tubuh, dan didapatkannya antigen dalam serum dan cairan tubuh atau tes serologis positif. Sistem imun humoral tidak berperan banyak dalam melawan toksoplasmosis tetapi sangat penting dalam diagnosis toksoplasmosis pada manudia. Pemeriksaan serologis mengindikasikan adanya infeksi sekarang ataupun lampau. Pemeriksaan ini merupakan uji diagnostik yang paling efektif pada orang dewasa imunokompeten yang masih bisa memberikan respon humoral terhadap parasit. Beberapa pemeriksaan serologis ini termasuk Enzyme linked Immunosorben assay (ELISA), Indirect Fluorescent Assay (IFA), fiksasi komplemen, Modified Agglutination Test (MAT) dan Sabin-Feldman Dye Test untuk mendeteksi antibodi IgG IgM.
Pencegahan
Adapun hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi Toxoplasma gondii antara lain sebagai berikut.
1.Pencegahan umum
-Melindungi area bermain anak dari feses kucing dan anjing.
-Menutup kotak pasir ketika tidak digunakan untuk menghindari kucing berdefekasi.
-Segera mencuci tangan setelah kontak dengan tanah yang mungkin terkontaminasi kotoran hewan.
-Mengontrol lalat dan kecoa sebisa mungkin. Serangga dapat menyebarkan tanah yang terkontaminasi atau kotoran hewan ke makanan.
-Hindari mengusap wajah atau mata ketika menyiapkan makanan, terutama daging mentah atau daging unggas.
-Setelah menyiapkan makanan, cuci tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir.
-Hindari mengonsumsi daging mentah atau setengah matang atau susu yang tidak dipasteurisasi. Sayur-sayuran dan buah-buahan dikupas atau dicuci terlebih dahulu sebelum dikonsumsi.
2.Pencegahan masa kehamilan
-Melakukan pemeriksaan sebelum kehamilan. Ada baiknya memeriksakan tubuh sebelum merencanakan kehamilan, apakah dalam tubuh terdapat virus atau bakteri yang dapat menyebabkan infeksi TORCH.
-Melakukan vaksinasi, Vaksinasi bertujuan untuk mencegah masuknya parasit penyebab TORCH. Seperti vaksin rubella dapat dilakukan sebelum kehamilan. Setelah vaksin ini tidak boleh hamil dahulu sampai 2 bulan kemudian.
-Mengkonsumsi makanan yang matang Menghindari memakan makanan tidak matang atau setengah matang. Virus atau parasit penyebab TORCH bisa terdapat pada makanan dan tidak akan mati apabila makanan tidak dimasak sampai matang. Untuk mencegah kemungkinan tersebut, selalu mengkonsumsi makanan matang dalam keseharian Anda.
-Memeriksakan kandungan secara teratur, Selama masa kehamilan, pastikan juga agar memeriksakan kandungan secara rutin dan teratur. Maksudnya adalah agar dapat dilakukan tindakan secepatnya apabila di dalam tubuh Anda ternyata terinfeksi TORCH. Penanganan yang cepat dapat membantu agar kondisi bayi tidak menjadi buruk.
-Menjaga kebersihan tubuh
Menjaga higiene tubuh, prosedur higiene dasar, seperti mencuci tangan, sangatlah penting
Antusias peserta sangat baik serta ada umpan balik pertanyaan dari pasien kepada narasumber.
Daftar Pustaka
Andriyani, Rika, and Kiki Megasari. (2015). “Faktor Risiko Yang Berhubungan Dengan Infeksi Toksoplasma Pada Ibu Hamil Di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Tahun 2010-2013.” Jurnal Kesehatan Andalas 4(2).
Aryani, I. Gusti Ayu Dwi. (2017). “Toksoplasmosis Kongenital.” Jurnal Cermin Dunia Kedokteran 44(8).
Bin Hamdan, Abdullah. (2015). “Toxoplasmosis Dalam Kehamilan.” Intisari Sains Medis 2(1):13–18.
