← Kembali ke Informasi Terkini

Berita

RADIOFREQUENCY ABLATION (RFA): SOLUSI MODERN UNTUK ATASI NYERI KRONIS

Apa Itu Nyeri Kronis dan Mengapa Perlu Ditangani dengan Serius?

Nyeri kronis adalah nyeri yang berlangsung lama, bahkan bisa berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Kondisi ini sangat umum dan menjadi alasan utama banyak orang mencari pengobatan medis. Selain menyebabkan ketidaknyamanan, nyeri kronis juga bisa mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup secara keseluruhan. Salah satu terapi yang kini banyak digunakan oleh dokter untuk mengatasi nyeri kronis adalah Radiofrequency Ablation (RFA) atau dalam bahasa awam dikenal sebagai "terapi gelombang panas untuk saraf nyeri". Mari kenali manfaat, proses, keunggulan risiko atau efek samping  radiofrequency ablation (RFA)  selengkapnya melalui artikel di bawah ini.

Apa Itu RFA dan Bagaimana Cara Kerjanya?

RFA adalah prosedur medis minim invasif (tidak melalui operasi besar) yang bekerja dengan menghantarkan gelombang radio ke saraf penyebab nyeri. Gelombang ini menghasilkan panas yang mampu “mematikan” saraf tertentu secara sementara, sehingga sinyal nyeri dari tubuh tidak sampai ke otak. Hasilnya, nyeri pun berkurang atau bahkan hilang. Prosedur ini juga dikenal sebagai "rizotomi", dan biasanya digunakan untuk mengobati berbagai jenis nyeri yang tidak kunjung membaik dengan obat atau terapi biasa.

Manfaat RFA untuk Jenis-Jenis Nyeri

RFA bisa digunakan untuk menangani berbagai keluhan nyeri, seperti:
  1. Nyeri punggung dan leher, terutama akibat masalah pada sendi faset atau saraf yang terjepit.
  2. Nyeri sendi, seperti lutut, pinggul, bahu, atau sendi sakroiliaka (di antara tulang belakang dan panggul).
  3. Osteoartritis, yaitu kerusakan pada tulang rawan sendi yang sering terjadi seiring usia.
  4. Nyeri saraf, seperti nyeri karena kerusakan saraf tepi yang tidak membaik dengan obat.
  5. Nyeri karena kanker, khususnya pada tulang, untuk membantu mengurangi nyeri yang sulit ditangani.
  6. Nyeri setelah operasi, untuk mengatasi nyeri yang masih muncul lama setelah tindakan bedah.
  7. Nyeri kepala dan wajah, seperti nyeri akibat saraf trigeminal (saraf wajah) atau nyeri kepala karena gangguan pada leher.
  8. Nyeri pada sendi sakroiliaka, yang sering menimbulkan nyeri di punggung bawah dan bokong.

Bagaimana Proses RFA Dilakukan?

Secara umum, tindakan radiofrequency ablation (RFA)  akan melalui berberapa tahap, di antaranya adalah persiapan, proses, hingga pemulihan. Berikut masing-masing penjelasanya.

  1. Persiapan Pasien Pasien akan diposisikan sesuai lokasi nyeri, misalnya tengkurap untuk nyeri punggung bawah. Kulit di area tindakan dibersihkan dan disterilkan, lalu diberikan obat bius lokal agar tidak terasa sakit.
  2. Penempatan Jarum dan Elektroda Dengan bantuan alat imaging seperti fluoroskopi (sinar-X langsung) atau CT scan, dokter akan memasukkan jarum khusus ke arah saraf yang menimbulkan nyeri. Setelah dipastikan posisinya tepat, elektroda dimasukkan ke dalam jarum tersebut.
Dokter juga akan melakukan stimulasi ringan untuk memastikan jarum berada di saraf yang tepat—biasanya pasien akan merasakan kesemutan ringan di area yang sakit.
  1. Ablasi (Pemanasan Saraf) Setelah itu, alat RFA akan mengirimkan panas hingga suhu sekitar 80°C selama 60–90 detik. Panas ini akan mengganggu fungsi saraf sehingga nyeri tidak lagi terasa.
  2. Pemulihan Setelah selesai, jarum dicabut dan pasien akan dipantau selama beberapa waktu. Biasanya, pasien bisa pulang di hari yang sama, dan sudah bisa beraktivitas ringan dalam 1–2 hari.

Apa Keunggulan RFA?

RFA adalah prosedur yang digunakan atau dipilih untuk atasi nyeri kronis. Keunggulan RFA diantaranya adalah:

  1. Tanpa Operasi Besar Tidak perlu sayatan besar. Cukup dengan jarum kecil dan panduan imaging.
  2. Risiko Efek Samping Lebih Rendah Dibandingkan dengan obat-obatan jangka panjang seperti anti nyeri atau opioid, RFA cenderung aman dan efek sampingnya ringan.
  3. Efektif Mengurangi Nyeri Banyak pasien melaporkan penurunan nyeri hingga 70–80% setelah RFA.
  4. Efeknya Bisa Bertahan Lama Rata-rata nyeri berkurang selama 6 sampai 12 bulan, bahkan bisa lebih lama tergantung kondisi pasien.
  5. Waktu Pemulihan Cepat Tidak perlu rawat inap. Pasien bisa langsung pulang dan hanya perlu istirahat singkat.

Apa Saja Risiko atau Efek Sampingnya?

Walaupun RFA tergolong aman, tetap ada kemungkinan efek samping, seperti:
  1. Nyeri ringan sementara di area yang diablasi (biasanya hilang dalam 1–2 minggu).
  2. Infeksi ringan di area tusukan (sangat jarang terjadi karena dilakukan dengan teknik steril).
  3. Mati rasa atau lemas sementara di area sekitar (biasanya membaik dalam hitungan minggu).
  4. Cedera saraf permanen (sangat jarang, terutama jika prosedur dilakukan oleh dokter berpengalaman).
  5. Reaksi alergi terhadap obat bius lokal, perdarahan kecil, atau bengkak ringan.
Radiofrequency Ablation (RFA) adalah solusi modern dan minim risiko untuk mengatasi berbagai jenis nyeri kronis. Prosedur ini membantu pasien mengurangi ketergantungan obat, memperbaiki fungsi tubuh, dan meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan. Jika Anda atau orang terdekat mengalami nyeri kronis yang sulit diobati, berkonsultasilah dengan dokter di Rumah Sakit Soeradji Tirtonegoro untuk mengetahui apakah RFA bisa menjadi pilihan terapi yang tepat. Jika ingin berkonsultasi tanpa antri dulu download aplikasi Eyang Soeradji #sehatbersamasoeradji