← Kembali ke Informasi Terkini
DSA Harapan Baru Bagi Penderita Afasia
Pernahkah Anda membayangkan bisa mendengar orang lain berbicara, tetapi sulit menjawab dengan kata-kata? Itulah yang dialami oleh penderita afasia. Gangguan bahasa ini sering muncul setelah stroke, ketika pusat bahasa di otak mengalami kerusakan.
Di era medis modern, ada teknologi bernama Digital Subtraction Angiography (DSA) yang dapat membantu dokter memahami dan menangani kondisi ini. Mari kita kenali lebih dekat peran DSA dalam kaitannya dengan afasia.
Apa Itu Afasia?
Afasia adalah gangguan komunikasi akibat kerusakan otak, biasanya karena stroke. Penderitanya bisa jadi masih paham lawan bicara, tapi sulit menyusun kata. Ada juga yang bisa bicara lancar, tetapi kalimatnya tidak nyambung. Gangguan ini bukan berarti kecerdasannya menurun—otaknya tetap berpikir normal, hanya saja jalur bahasa di otak terganggu.
Apa Penyebab Afasia Bisa Terjadi ?
Afasia bukan merupakan suatu penyakit, melainkan gejala yang menandai adanya kerusakan di bagian otak yang mengatur bahasa dan komunikasi. Penyebab Utama Afasia :
- Stroke (penyebab paling sering)
- Cedera Otak Traumatis (Traumatic Brain Injury / TBI)
- Tumor Otak
- Infeksi atau Peradangan Otak
- Penyakit Neurodegeneratif
- Tekanan darah tinggi (hipertensi)
- Kolesterol tinggi
- Diabetes
- Merokok
- Riwayat stroke atau penyakit kardiovaskular
- Dokter memasukkan kateter kecil ke pembuluh darah (biasanya lewat paha).
- Cairan kontras disuntikkan agar pembuluh darah tampak jelas.
- Mesin angiografi kemudian memotret aliran darah otak.
- Karena penyebab utama afasia adalah stroke (sumbatan atau perdarahan otak), maka DSA dipakai untuk mencari tahu letak sumbatan/kelainan pembuluh darah.
- Pada stroke iskemik akut (sumbatan), DSA juga bisa menjadi langkah awal tindakan intervensi seperti: Trombektomi mekanik dengan mengambil bekuan darah penyebab stroke, Angioplasti/stenting dengan membuka pembuluh darah yang menyempit.