← Kembali ke Informasi Terkini

Berita

DSA Harapan Baru Bagi Penderita Afasia

Pernahkah Anda membayangkan bisa mendengar orang lain berbicara, tetapi sulit menjawab dengan kata-kata? Itulah yang dialami oleh penderita afasia. Gangguan bahasa ini sering muncul setelah stroke, ketika pusat bahasa di otak mengalami kerusakan. Di era medis modern, ada teknologi bernama Digital Subtraction Angiography (DSA) yang dapat membantu dokter memahami dan menangani kondisi ini. Mari kita kenali lebih dekat peran DSA dalam kaitannya dengan afasia. Apa Itu Afasia? Afasia adalah gangguan komunikasi akibat kerusakan otak, biasanya karena stroke. Penderitanya bisa jadi masih paham lawan bicara, tapi sulit menyusun kata. Ada juga yang bisa bicara lancar, tetapi kalimatnya tidak nyambung. Gangguan ini bukan berarti kecerdasannya menurun—otaknya tetap berpikir normal, hanya saja jalur bahasa di otak terganggu. Apa Penyebab Afasia Bisa Terjadi ? Afasia bukan merupakan suatu penyakit, melainkan gejala yang menandai adanya kerusakan di bagian otak yang mengatur bahasa dan komunikasi. Penyebab Utama Afasia :
  1. Stroke (penyebab paling sering)
Stroke iskemik (sumbatan pembuluh darah otak) atau stroke hemoragik (perdarahan otak) dapat merusak jaringan otak yang berfungsi untuk bicara dan memahami bahasa. Lebih dari 30%             penyintas stroke mengalami afasia.
  1. Cedera Otak Traumatis (Traumatic Brain Injury / TBI)
Kecelakaan, benturan keras di kepala, atau cedera akibat jatuh bisa merusak pusat bahasa di otak.
  1. Tumor Otak
Tumor yang tumbuh di area otak kiri dapat menekan jaringan saraf yang mengatur bahasa, sehingga menyebabkan gangguan berbicara.
  1. Infeksi atau Peradangan Otak
Misalnya meningitis atau ensefalitis yang menyerang otak bagian kiri.
  1. Penyakit Neurodegeneratif
Kondisi seperti Dementia atau Primary Progressive Aphasia (PPA), di mana kerusakan otak berkembang perlahan dan progresif, juga bisa menyebabkan afasia. Faktor Risiko yang Meningkatkan Kemungkinan Afasia
  • Tekanan darah tinggi (hipertensi)
  • Kolesterol tinggi
  • Diabetes
  • Merokok
  • Riwayat stroke atau penyakit kardiovaskular
Apakah Afasia Bisa dilakukan Dengan Tindakan DSA ? DSA (Digital Subtraction Angiography) bukan terapi langsung untuk afasia, melainkan alat diagnostik untuk melihat pembuluh darah otak. Apa Itu DSA? Digital Subtraction Angiography (DSA) adalah pemeriksaan medis untuk melihat aliran darah di otak dengan sangat detail. Caranya:
  • Dokter memasukkan kateter kecil ke pembuluh darah (biasanya lewat paha).
  • Cairan kontras disuntikkan agar pembuluh darah tampak jelas.
  • Mesin angiografi kemudian memotret aliran darah otak.
Hasilnya, dokter bisa melihat bagian mana dari pembuluh darah yang tersumbat, bocor, atau mengalami kelainan. Bagaimana Hubungan DSA dengan Afasia ?
  • Karena penyebab utama afasia adalah stroke (sumbatan atau perdarahan otak), maka DSA dipakai untuk mencari tahu letak sumbatan/kelainan pembuluh darah.
  • Pada stroke iskemik akut (sumbatan), DSA juga bisa menjadi langkah awal tindakan intervensi seperti: Trombektomi mekanik dengan mengambil bekuan darah penyebab stroke, Angioplasti/stenting dengan membuka pembuluh darah yang menyempit.
Jika tindakan ini berhasil mengembalikan aliran darah ke area otak yang mengatur bahasa, ada kemungkinan fungsi bahasa (afasia) bisa membaik, terutama bila dilakukan sesegera mungkin (golden period stroke: < 6 jam pertama). Afasia mengajarkan kita bahwa bahasa lebih dari sekadar kata-kata. Bagi penderita, bisa mendengar tanpa bisa bicara adalah perjuangan yang penuh tantangan. Dengan empati, kesabaran, dan terapi yang tepat, komunikasi tetap bisa terjalin, dan harapan untuk “bersuara” kembali selalu ada. DSA memang tidak menyembuhkan afasia secara langsung. Namun, pemeriksaan ini berperan penting untuk menemukan penyebab, membuka sumbatan pembuluh darah, dan memberikan peluang lebih besar bagi penderita afasia untuk pulih. Dengan kata lain, semakin cepat dilakukan, semakin besar harapan penderita untuk kembali bersuara. Konsultasikan segera masalah Kesehatan anda bersama klinik Radiologi Intervensi Rumah Sakit Soeradji Tirtonegoro, untuk konsultasi tanpa antri dulu download aplikasi eyang soeradji. #sehatbersamasoeradji