← Kembali ke Informasi Terkini

Berita

Bahaya Tulang Keropos pada Tulang Belakang (Osteoporosis Tulang Belakang)

dr. Prahesta Adi Wibowo, Sp.OT (K) Spine, Tulang keropos atau Osteoporosis tulang belakang adalah kondisi ketika kepadatan tulang belakang menurun sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Penyakit ini sering berkembang tanpa gejala awal yang jelas, sehingga banyak pasien baru menyadari setelah terjadi patah tulang belakang akibat Osteoporosis. Menurut berbagai jurnal kedokteran Amerika, Osteoporosis merupakan salah satu penyebab utama patah tulang pada usia lanjut, dengan tulang belakang sebagai lokasi yang paling sering terdampak. Mengapa Osteoporosis tulang belakang berbahaya? Tulang belakang berperan penting dalam menopang tubuh dan melindungi saraf. Pada kondisi osteoporosis, tekanan ringan seperti membungkuk, mengangkat barang ringan, atau batuk keras dapat menyebabkan patah kompresi tulang belakang. Patah tulang ini sering terjadi tanpa cedera berat dan dapat menimbulkan dampak jangka panjang bila tidak ditangani dengan baik. Gejala osteoporosis tulang belakang dapat bervariasi, antara lain :
  • Nyeri punggung yang muncul tiba-tiba atau menetap
  • Nyeri bertambah saat berdiri atau berjalan lama
  • Penurunan tinggi badan secara perlahan
  • Postur tubuh menjadi membungkuk
  • Keterbatasan aktivitas sehari-hari
Pada sebagian kasus, gejala baru terasa setelah tulang mengalami patah. Dampak Patah Tulang Belakang Akibat Osteoporosis Patah tulang belakang akibat osteoporosis dapat menyebabkan :
  • Nyeri punggung kronis
  • Deformitas tulang belakang
  • Penurunan kualitas hidup
  • Risiko patah tulang lain seperti tulang pinggul, meningkat
  • Gangguan keseimbangan dan mobilitas
Bila tidak ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan ketergantungan pada alat bantu dan perawatan jangka panjang. Siapa yang berisiko mengalami Osteoporosis tulang belakang ? Beberapa faktor risiko Osteoporosis tulang belakang meliputi :
  • Usia di atas 50 tahun
  • Wanita pasca-menopause
  • Riwayat osteoporosis dalam keluarga
  • Penggunaan obat kortikosteroid jangka Panjang
  • Kurang aktivitas fisik
  • Kekurangan kalsium dan vitamin D
  • Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol
Bagaimana cara mendeteksi Osteoporosis tulang belakang? Deteksi dini Osteoporosis sangat penting untuk mencegah komplikasi. Pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain:
  1. Pemeriksaan kepadatan tulang (Dexa Scan)
  2. Pemeriksaan radiologi bila terdapat nyeri punggung yang mencurigakan
  3. Evaluasi klinis oleh dokter spesialis
Tidak semua pasien dengan nyeri punggung mengalami osteoporosis, sehingga pemeriksaan oleh dokter tetap diperlukan. Apakah Osteoporosis tulang belakang harus dioperasi? Sebagian besar kasus Osteoporosis tulang belakang tidak memerlukan operasi. Penanganan umumnya meliputi :
  • Terapi obat untuk memperkuat tulang
  • Suplementasi kalsium dan vitamin D
  • Fisioterapi dan latihan yang sesuai
  • Modifikasi aktivitas sehari-hari
Operasi dipertimbangkan pada kondisi tertentu, seperti patah tulang belakang dengan nyeri berat, deformitas signifikan, atau gangguan fungsi. Cara mencegah tulang keropos pada tulang belakang Beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan antara lain :
  • Konsumsi makanan tinggi kalsium dan vitamin D
  • Aktivitas fisik teratur, terutama latihan beban ringan
  • Menghindari rokok dan alkohol
  • Pemeriksaan kepadatan tulang secara berkala pada kelompok berisiko
  • Konsultasi ke dokter bila mengalami nyeri punggung berkepanjangan
Kapan harus ke dokter ? Segera periksakan diri ke dokter bila mengalami :
  • Nyeri punggung mendadak tanpa sebab jelas
  • Nyeri yang tidak membaik dengan istirahat
  • Penurunan tinggi badan atau postur membungkuk
  • Riwayat Osteoporosis dengan keluhan nyeri punggung
Osteoporosis tulang belakang merupakan kondisi serius yang dapat menyebabkan patah tulang, nyeri kronis, dan penurunan kualitas hidup. Dengan deteksi dini, edukasi yang tepat, dan penanganan sesuai, risiko komplikasi dapat dikurangi dan pasien tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih baik. Referensi
  1. International Osteoporosis Foundation – Fakta dan statistik global mengenai osteoporosis dan fraktur kerapuhan.
  2. tromsnes, K., et al. (2024). Osteoporosis: Causes, Mechanisms, Treatment and Prevention: Role of Dietary Compounds. Pharmaceuticals, 17(12), pp. 1697.
  3. Aibar-Almazán, A., et al. (2022). Current Status of the Diagnosis and Management of Osteoporosis. International journal of molecular sciences, 23(16), pp. 9465.
  4. Bauer DC, Sklarin PM, Stone KL, et al. (2012). Biochemical markers of bone turnover and prediction of hip bone loss in older women: the study of osteoporotic fractures. J Bone Miner. 14(8):1404–1410. 40 Curr Osteoporos Rep (2011) 9:36–42
  5. National Institute for Health and Clinical Excellence. (2012). Osteoporosis: Assessing the Risk of Fragility Fracture. NICE Clinical Guideline 146. London: NICE